NUNUKAN – Kasus kematian bayi dan ibu di Kabupaten Nunukan pada tahun 2025 masih menjadi perhatian serius Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB).
Tercatat, angka kematian bayi memang mengalami penurunan, namun kasus kematian ibu justru mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya.
Kondisi ini mendorong Dinkes Nunukan untuk terus memperkuat layanan kesehatan ibu dan anak melalui berbagai program prioritas yang dijalankan secara berkelanjutan.
Upaya tersebut dilakukan untuk menekan angka kematian ibu dan bayi, sekaligus mencegah stunting di wilayah perbatasan yang memiliki tantangan geografis dan mobilitas penduduk yang tinggi.
Kepala Dinkes P2KB Kabupaten Nunukan, Hj. Miskia, S.Si., Apt., M.M., mengatakan bahwa dari tahun ke tahun pihaknya tetap menempatkan program kesehatan ibu dan anak sebagai fokus utama, selain program stunting dan Cek Kesehatan Gratis (CKG).
“Pelayanan kesehatan dari tahun ke tahun kami memiliki program fokus, seperti kesehatan ibu dan anak, program stunting, program CKG, dan program lainnya,” ujar Miskia, Senin (19/01/2025).
Ia mengakui bahwa tantangan terbesar dalam pelayanan kesehatan ibu dan anak di Nunukan adalah tingginya mobilitas penduduk.
Sebagai daerah perbatasan dan daerah transit, Nunukan menjadi tempat singgah masyarakat dari berbagai daerah yang akan bekerja ke luar negeri, khususnya ke Malaysia.
“Kami harus akui Nunukan ini daerah transit. Masyarakat yang datang bukan hanya warga Nunukan, tapi juga masyarakat luar yang sementara melintas untuk bekerja ke Malaysia,” katanya.
Menurut Miskia, banyak kasus ibu hamil yang datang ke Nunukan dalam kondisi sudah mendekati persalinan tanpa pernah melakukan pemeriksaan kehamilan sebelumnya.
Kondisi tersebut sering kali menimbulkan permasalahan, baik pada ibu maupun bayi yang dilahirkan.
“Ada yang datang sudah hamil dan mau melahirkan, sementara selama kehamilan tidak pernah memeriksakan diri. Saat ingin melahirkan baru ke Nunukan, di situlah kami menemukan permasalahan, termasuk pada bayinya. Ini juga menjadi salah satu penyumbang stunting dan kematian bayi,” jelasnya.
Selain faktor mobilitas penduduk, kondisi geografis Nunukan yang luas dengan akses pelayanan kesehatan yang terbatas di sejumlah wilayah juga menjadi kendala dalam penanganan kasus kesehatan ibu dan anak.
Miskia menegaskan bahwa persalinan sangat disarankan dilakukan di fasilitas kesehatan terdekat.
Hal tersebut penting untuk menjamin keselamatan ibu dan bayi, sekaligus berkaitan dengan administrasi kependudukan.
“Kelahiran harus di fasilitas kesehatan, karena surat keterangan kelahiran hanya bisa dikeluarkan oleh fasilitas kesehatan atau bidan yang membantu persalinan,” tegasnya.
Dinkes Nunukan juga mengimbau agar seluruh ibu hamil rutin memeriksakan kehamilannya sejak dini hingga menjelang persalinan. Terutama bagi ibu hamil yang berpotensi mengalami komplikasi, diharapkan segera mendatangi fasilitas kesehatan terdekat.
“Kami menghimbau agar ibu yang mengandung rutin memeriksakan diri sebelum dan jelang melahirkan. Kalau memang harus dirujuk, segera ke faskes terdekat,” ujarnya.
Sebagai bentuk dukungan, Dinkes Nunukan telah menyediakan rumah tunggu melahirkan bagi masyarakat yang mengalami kendala persalinan, rumah tunggu tersebut disiapkan di beberapa lokasi, yakni di Mainau, Tarakan, dan Nunukan.
“Untuk masyarakat yang dirujuk dan memiliki kendala melahirkan, kami sudah menyiapkan rumah tunggu melahirkan di beberapa tempat,” katanya.
Namun demikian, Miskia menyebut keterlambatan penanganan masih kerap terjadi akibat lambatnya pengambilan keputusan dari pihak keluarga, terutama bagi masyarakat yang tinggal di daerah terpencil.
“Sering kali saat ibu harus dirujuk, keluarga masih ragu dan menunggu keputusan keluarga besar. Pertimbangan jarak, meninggalkan anak, dan jauh dari keluarga membuat keputusan menjadi lambat, sehingga penanganan juga terlambat sampai ke rumah sakit,” ungkapnya.
Berdasarkan data Dinkes Nunukan, jumlah bayi lahir hidup pada tahun 2025 tercatat sebanyak 2.871 bayi. Angka ini menurun dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 3.263 bayi.
Untuk kematian bayi, tercatat sebanyak 44 kasus pada tahun 2025, menurun dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 52 kasus. Namun, kasus kematian ibu justru mengalami peningkatan dari 3 kasus pada tahun 2024 menjadi 4 kasus pada tahun 2025.
Melalui penguatan layanan kesehatan dan dukungan peran aktif masyarakat, Dinkes Nunukan berharap kualitas kesehatan ibu dan anak di Kabupaten Nunukan dapat terus meningkat, serta angka kematian ibu dan bayi dapat ditekan secara berkelanjutan. (*dkisp)








Discussion about this post