SEBATIK – Senin sore itu, angin laut Pulau Sebatik membawa aroma asin khas laut perbatasan. Di Rumah Makan Hassanah, para petani rumput laut berkumpul, berbagi cerita tentang tantangan sehari-hari mereka dengan H. Ladullah, Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara).
Keluhan yang mereka sampaikan terdengar sederhana, namun berdampak besar bagi mata pencaharian: sering hilangnya tali pengikat rumput laut saat panen, serta rawannya pencurian di laut. “Kadang kami panen, tali sudah hilang. Kami bingung harus lapor ke siapa,” kata salah seorang petani dari Sebatik Barat.
Ladullah mendengarkan dengan seksama. Ia memahami bahwa masalah ini bukan hanya soal material, tetapi juga soal rasa aman bagi masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada laut. “Setelah reses ini, saya akan sampaikan persoalan keamanan laut kepada Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara agar ada patroli untuk mengamankan budidaya rumput laut,” ujarnya dengan tegas.
Sebatik Barat menjadi perhatian khusus karena hampir 50 persen masyarakatnya bergantung pada rumput laut sebagai sumber ekonomi. Meski harga komoditas ini menurun, H. Ladullah menegaskan bahwa prioritas utama tetap perlindungan dan keselamatan di laut.
Dalam obrolan hangat itu, para petani juga menyoroti pentingnya perhatian pemerintah terhadap kebutuhan dasar mereka. H. Ladullah berjanji untuk menindaklanjuti aspirasi tersebut agar hasil laut, termasuk rumput laut, dapat diolah dengan aman dan dinikmati manfaatnya oleh masyarakat.
“Kita ingin memastikan, meski berada di wilayah perbatasan, masyarakat Sebatik dapat bekerja dengan aman, dan ekonomi lokal tetap kuat,” jelas H. Ladullah.
Reses ini bukan sekadar agenda politik, melainkan momen mendengar dan memahami kehidupan masyarakat pesisir. Dari setiap cerita dan keluhan yang terdengar, terlihat semangat warga Sebatik mempertahankan mata pencaharian mereka, sekaligus menjaga kearifan lokal dan nilai kebersamaan. (*)








Discussion about this post