TARAKAN – Riuh polemik program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Tarakan akhirnya mendapat respons langsung dari DPRD Kalimantan Utara. Dalam sepekan terakhir, keluhan soal dugaan kandungan gizi yang kurang hingga porsi yang dinilai tidak sepadan dengan harga ketentuan menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat.
Tak ingin isu ini berlarut, Komisi IV DPRD Kaltara turun langsung melakukan inspeksi mendadak ke SMA Negeri 1 dan SMK Negeri 4 Tarakan.
Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kaltara, Syamsuddin Arfah, menegaskan bahwa pengawasan ini dilakukan demi memastikan hak siswa terpenuhi.
“Kami hadir untuk memastikan bahwa makanan yang diberikan benar-benar sesuai standar. Ini menyangkut gizi dan masa depan anak-anak kita,” ujarnya.
Dari hasil sidak di SMA Negeri 1, Komisi IV menemukan dugaan ketidaksesuaian yang cukup serius. Kandungan gizi disebut belum memenuhi standar yang ditetapkan, dan harga yang diterapkan juga dinilai tidak sesuai ketentuan.
Menurut Syamsuddin, jika temuan tersebut terbukti, maka perlu ada rekomendasi resmi dan sanksi yang jelas bagi penyedia. “Karena ini menggunakan uang negara. Tidak boleh ada kompromi kalau menyangkut kualitas,” tegasnya.
Sementara itu, di SMK Negeri 4, pelaksanaan program secara umum dinilai lebih baik. Namun, masih ditemukan celah pada sistem penggabungan menu hari Jumat dan Sabtu. Dalam praktiknya, ada menu yang seharusnya diterima dua kali, tetapi hanya diberikan satu kali.
“Kalau dua hari digabung tetapi porsinya tidak menyesuaikan, tentu dari sisi gizi menjadi kurang. Ini yang perlu diperbaiki,” jelasnya.
Ia menambahkan, pengawasan tidak cukup hanya dilakukan sesekali. Perlu monitoring rutin dan standar baku yang jelas. Selain itu, DPRD juga mendorong adanya keterlibatan siswa dan pihak sekolah untuk aktif melaporkan jika ditemukan ketidaksesuaian.
“Tujuan program ini sangat baik, untuk meningkatkan gizi anak sekolah. Jangan sampai niat baik ini tercoreng karena pelaksanaan yang tidak sesuai aturan,” tutupnya.
Komisi IV memastikan akan terus mengawal program MBG agar manfaatnya benar-benar dirasakan siswa, bukan sekadar menjadi program di atas kertas. (*)








Discussion about this post