TARAKAN – Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) RI terus mendalami penyebab kecelakaan pesawat Pelita Air nomor penerbangan PAS 7101 registrasi PK-PPA yang jatuh di kawasan Gunung Pa’belaban, Desa Kampung Baru, Kecamatan Krayan Timur, Kabupaten Nunukan, Kamis (19/02/2026) sekitar pukul 12.15 WITA. Fokus utama tim investigasi saat ini adalah pengumpulan data lapangan serta penelusuran perangkat navigasi Garmin yang terpasang di pesawat.
Pesawat yang melayani rute Tarakan–Long Bawan–Tarakan tersebut sebelumnya mengangkut sekitar 4.000 liter BBM jenis Pertalite. Setelah melakukan bongkar muatan di Bandara Long Bawan sekitar pukul 11.00 WITA, pesawat kembali lepas landas menuju Tarakan pada pukul 12.10 WITA. Namun beberapa menit kemudian dilaporkan jatuh di sekitar Desa Pabetung. Pilot, Capt. Hendrick L. Adam, ditemukan meninggal dunia di dalam badan pesawat.
Perwakilan KNKT RI, Voltha Herry, menyatakan investigasi dilakukan untuk mengungkap faktor penyebab kecelakaan secara menyeluruh. Ia menegaskan, penyelidikan KNKT tidak bertujuan menentukan pihak yang bersalah, melainkan sebagai upaya pembelajaran demi meningkatkan keselamatan penerbangan.
“Investigasi ini murni untuk mengetahui apa yang terjadi dan bagaimana rangkaian peristiwa sebelum kecelakaan. Hasilnya nanti menjadi rekomendasi keselamatan agar kejadian serupa tidak terulang,” ujarnya di Tarakan, Jumat (20/02/2026).
Dalam prosesnya, KNKT mengumpulkan berbagai data, mulai dari pemeriksaan lokasi kejadian, dokumentasi puing pesawat, data teknis pesawat, hingga keterangan dari operator dan pihak terkait lainnya.
Terkait isu keberadaan kotak hitam atau black box, Voltha menjelaskan bahwa pesawat tersebut memang tidak dilengkapi flight recorder maupun cockpit voice recorder. Berdasarkan regulasi, pesawat dengan berat di bawah 5.700 kilogram tidak diwajibkan memasang perangkat perekam tersebut.
Sebagai gantinya, tim investigasi kini berupaya menemukan dan mengamankan perangkat Garmin yang diketahui terpasang di pesawat. Perangkat tersebut berpotensi menyimpan data jalur penerbangan (flight track) dan sejumlah parameter terbatas yang dapat membantu merekonstruksi penerbangan terakhir.
“Kami masih memastikan kondisi perangkat Garmin itu, apakah masih utuh dan datanya bisa diakses atau mengalami kerusakan akibat benturan dan kebakaran. Itu akan diketahui setelah proses pemeriksaan lebih lanjut,” jelasnya.
Selain itu, KNKT juga berkoordinasi dengan aparat keamanan untuk mensterilkan area lokasi kecelakaan. Langkah tersebut dilakukan guna menjaga keutuhan barang bukti dan memastikan proses investigasi berlangsung objektif.
KNKT menegaskan proses investigasi membutuhkan waktu karena seluruh data harus dianalisis secara komprehensif sebelum kesimpulan dan rekomendasi keselamatan diterbitkan secara resmi. (*)








Discussion about this post