TARAKAN – Transformasi digital di sektor transportasi laut Kalimantan Utara terus dipercepat melalui perluasan sistem pembayaran QRIS di berbagai pelabuhan speedboat. Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Utara, Hasiando Ginsar Manik, menegaskan bahwa program ini merupakan bagian dari penguatan sistem pembayaran digital yang inklusif dan berkelanjutan.
Ia menyampaikan bahwa digitalisasi pelabuhan menjadi langkah strategis untuk meningkatkan efisiensi layanan sekaligus memperkuat transparansi transaksi di sektor transportasi publik.
“Penggunaan QRIS di pelabuhan adalah upaya menghadirkan layanan yang lebih modern, cepat, dan transparan bagi masyarakat,” ujarnya.
Program Pelabuhan SIAP QRIS yang dimulai pada 11 Desember 2025 telah menjadi tonggak awal digitalisasi pembayaran di pelabuhan Kaltara. Salah satu implementasi awal dilakukan di Pelabuhan Tengkayu I, yang kini telah melayani transaksi tiket speedboat dan retribusi secara non-tunai.
Perluasan program berlanjut pada 17 April 2026 melalui Pelabuhan Kayan II SIAP QRIS, yang memperluas cakupan digitalisasi ke wilayah pelabuhan lainnya di Kalimantan Utara.
Hingga saat ini, sejumlah pelabuhan seperti Pelabuhan Liem Hie Djung Nunukan, Pelabuhan Speedboat Malinau, Pelabuhan Keramat, Pelabuhan Tengkayu I, dan Pelabuhan Kayan II telah mengimplementasikan sistem pembayaran QRIS.
“Capaian ini menunjukkan komitmen bersama dalam mempercepat transformasi digital di sektor transportasi laut,” jelasnya, Selasa (12/05/2026).
Implementasi ini merupakan hasil kolaborasi antara Bank Indonesia dengan Dinas Perhubungan serta UPTD pelabuhan di masing-masing daerah.
Ke depan, seluruh pelabuhan di Kalimantan Utara ditargetkan sudah sepenuhnya terkoneksi dengan QRIS pada tahun 2026, sehingga masyarakat dapat menikmati layanan transportasi laut yang lebih praktis tanpa transaksi tunai.
“Ini bukan hanya soal pembayaran digital, tetapi bagian dari perubahan sistem layanan publik yang lebih efisien dan akuntabel,” pungkasnya. (*)








Discussion about this post