NUNUKAN – Jauh di kawasan perbatasan Kabupaten Nunukan, Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) menyimpan kekayaan hayati yang tidak mudah ditemukan di tempat lain.
Di wilayah kerja Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Long Bawan, hutan menjadi habitat berbagai jenis satwa liar sekaligus tumbuhan endemik yang memiliki nilai konservasi tinggi.
Kantor SPTN Wilayah I Long Bawan berada di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, dalam pengelolaannya, wilayah ini terbagi menjadi dua unit pengelola, yakni Resort Krayan yang mengakomodasi lima kecamatan wilayah kerja dan Resort Lumbis yang mencakup Kecamatan Lumbis Hulu.
Bentang alam tersebut menjadi ruang hidup bagi beragam satwa liar yang hidup di ekosistem hutan pegunungan dan kawasan perbatasan.
Data pemantauan SPTN Wilayah I Long Bawan mencatat sedikitnya 14 jenis satwa yang termasuk dalam daftar satwa dilindungi berdasarkan Permen LHK Nomor P.106 Tahun 2018.

Jenis tersebut antara lain beruang madu (Helarctos malayanus), binturong (Arctictis binturong), kijang (Muntiacus muntjak), kuau raja (Argusianus argus), kucing batu (Pardofelis marmorata), kucing kuwuk (Prionailurus bengalensis), landak, musang congkok, paok Kalimantan, pelanduk, rusa, trenggiling, enggang jambul dan macan dahan Kalimantan.
Salah satu kekayaan fauna yang menarik perhatian adalah lutung banggat (Presbytis hosei), satwa ini merupakan primata yang disebut endemik Pulau Borneo dan memiliki habitat alami di hutan tropis.
Keberadaan lutung banggat menjadi bagian dari kekayaan hayati yang masih tersimpan di kawasan hutan Kalimantan dan menunjukkan pentingnya menjaga habitat alami yang menjadi ruang hidup satwa tersebut.
Selain lutung banggat, kuau raja (Argusianus argus) juga menjadi salah satu jenis burung yang dipantau di kawasan TNKM.
Tim petugas patroli TNKM mulai melakukan identifikasi terhadap jenis burung ini sejak 2021, selanjutnya, pada 2022 dilakukan monitoring khusus untuk mengetahui sebarannya.
Keberadaan kuau raja dapat dikenali melalui perjumpaan langsung, suara khas, bekas sarang, bekas areal menari hingga helai bulu yang menjadi ciri khasnya.
Kekayaan hayati TNKM tidak hanya berupa satwa, di dataran tinggi bagian utara kawasan yang berbatasan langsung dengan Malaysia, tumbuh Rafflesia pricei, flora endemik yang menjadi salah satu kekayaan tumbuhan penting di kawasan TNKM.
Keberadaan tumbuhan tersebut mendapat perhatian khusus dari Balai TNKM, perlindungannya dilakukan melalui kolaborasi dengan masyarakat adat setempat.
Sejumlah pemuda desa di sekitar habitat Rafflesia pricei dilibatkan untuk melakukan pengamatan rutin sekaligus mencegah terjadinya kerusakan habitat.
Kehadiran Rafflesia pricei menunjukkan bahwa kawasan hutan di wilayah perbatasan Kabupaten Nunukan memiliki ekosistem yang mampu menopang kehidupan flora dengan karakteristik khusus.
Kekayaan fauna di wilayah kerja SPTN Wilayah I Long Bawan juga terlihat dari keberadaan sejumlah satwa dengan tingkat ancaman konservasi yang berbeda.
Data yang tersedia mencatat satwa dengan status Critically Endangered (CR), Endangered (EN), Vulnerable (VU), Near Threatened (NT), hingga Least Concern (LC).
Trenggiling (Manis javanica) menjadi salah satu satwa yang mendapat perhatian karena berstatus Critically Endangered atau kritis, status tersebut menunjukkan risiko kepunahan yang sangat tinggi di alam dan menegaskan pentingnya keberadaan habitat yang aman bagi kelangsungan hidupnya.
Di kawasan ini juga terdapat macan dahan Kalimantan (Neofelis diardi borneensis), kucing liar yang hanya ditemukan di Pulau Kalimantan. Keberadaannya memiliki arti penting bagi ekosistem karena satwa tersebut merupakan predator yang menjadi bagian dari struktur ekologis hutan.
Kepala SPTN Wilayah I Long Bawan, Hery Gunawan, S.Hut., mengatakan keberadaan satwa dilindungi seperti trenggiling, beruang madu, binturong, kuau raja, rusa dan macan dahan Kalimantan menunjukkan bahwa hutan di wilayah kerjanya masih memiliki fungsi penting sebagai habitat berbagai jenis satwa.
“Bagi kami di tingkat tapak, keberadaan satwa dilindungi seperti trenggiling, beruang madu, binturong, kuau raja, rusa, dan macan dahan Kalimantan menunjukkan bahwa hutan di wilayah kerja SPTN Wilayah I Long Bawan masih memiliki fungsi penting sebagai habitat berbagai jenis satwa,” kata Hery, Kamis (20/8/2026).
Menurut Hery, status konservasi menjadi salah satu informasi penting dalam menentukan perhatian dan prioritas pemantauan di lapangan.
Pemantauan dan pengamanan kawasan dilakukan melalui kegiatan lapangan, patroli, inventarisasi serta monitoring keanekaragaman hayati, namun, menjaga hutan tidak dapat hanya dilakukan oleh petugas, masyarakat di sekitar kawasan juga menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan habitat.
“Kami berharap keberadaan satwa-satwa ini tidak hanya dipandang sebagai data hasil monitoring, tetapi menjadi kebanggaan bersama,” ujarnya.
Wilayah kerja SPTN Wilayah I Long Bawan bersinggungan langsung dengan kawasan perbatasan negara, data wilayah mencatat terdapat 84 desa atau pemukiman dari tujuh kecamatan serta 12 lokasi objek dan daya tarik wisata alam (ODTWA).
Wilayah tersebut juga memiliki batas negara dengan Serawak sepanjang 101,24 kilometer dan Sabah sepanjang 98,99 kilometer.
Dalam pengelolaannya, kawasan TNKM memiliki sejumlah zona, yakni zona inti seluas 24.357,86 hektare, zona khusus 57.071,71 hektare, zona pemanfaatan 7.376,49 hektare, zona rimba 63.356,02 hektare dan zona tradisional 120.547,82 hektare.
Kepala Balai TNKM Seno Pramudito, S.Hut., M.E., mengatakan keberadaan berbagai jenis satwa dan tumbuhan menjadi bagian penting dari mandat konservasi TNKM.
TNKM sendiri memiliki luas 1.271.665 hektare dan menyimpan keanekaragaman hayati berupa tumbuhan, satwa serta ekosistemnya, termasuk 96 jenis mamalia dan 200 jenis aves.
“Keberadaan berbagai jenis satwa dilindungi di Taman Nasional Kayan Mentarang menunjukkan bahwa kawasan ini memiliki nilai konservasi yang sangat penting,” tutur Seno, Kamis (20/8/2026).
Karena itu, menjaga TNKM tidak hanya berarti mempertahankan tutupan hutannya, di balik pepohonan dan bentang alam perbatasan tersebut terdapat kehidupan yang saling terhubung, mulai dari lutung banggat yang endemik Borneo, Rafflesia pricei yang tumbuh di dataran tinggi perbatasan, hingga trenggiling dan macan dahan Kalimantan yang membutuhkan habitat untuk terus bertahan di alam.
Bagi wilayah perbatasan Kabupaten Nunukan, kekayaan tersebut bukan sekadar daftar jenis flora dan fauna, lebih dari itu, keberadaan satwa dan tumbuhan tersebut merupakan bagian dari identitas alam Kalimantan Utara sekaligus warisan yang keberlangsungannya sangat bergantung pada kemampuan manusia menjaga hutan dan habitatnya. (*)








Discussion about this post