NUNUKAN – Penyelenggaraan Paras Festival 2026 memberikan dorongan terhadap aktivitas perekonomian masyarakat di Kabupaten Nunukan.
Berdasarkan hasil pendataan Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Nunukan, omzet usaha sampel yang diamati meningkat sekitar Rp1,054 miliar dibandingkan kondisi normal.
Kepala BPS Kabupaten Nunukan, Dr. Iskandar Ahmaddien, menyampaikan bahwa hasil pendataan menunjukkan adanya peningkatan omzet pada sebagian besar usaha yang diamati selama festival berlangsung.
Dampak tersebut tidak hanya terlihat di kawasan acara, tetapi juga menjangkau pelaku usaha di luar lokasi festival.
“Dari hasil pengamatan kami, terdapat satu angka yang cukup menarik. Sebanyak 73,8 persen dari 275 observasi usaha yang dianalisis mengalami peningkatan omzet selama penyelenggaraan festival,” ujar Iskandar, Kamis (15/10/2026).
Ia menjelaskan, BPS Kabupaten Nunukan melakukan pendataan terhadap 320 pelaku usaha dengan melibatkan 35 petugas lapangan yang menggunakan aplikasi RISE.
Pendataan ini difokuskan pada pelaku usaha di luar kawasan festival, dengan cakupan wilayah se-Pulau Nunukan.
Sampel yang diamati mencakup berbagai sektor usaha, antara lain perdagangan, kuliner, transportasi, akomodasi, dan jasa lainnya, adapun pelaku usaha yang berada di dalam kawasan festival didata secara terpisah oleh Pemerintah Kabupaten Nunukan.
Berdasarkan hasil analisis BPS, omzet agregat usaha sampel yang diamati mencapai sekitar Rp4,157 miliar, nilai tersebut meningkat 33,97 persen dibandingkan omzet pada kondisi normal sebesar Rp3,103 miliar.
Dengan demikian, terdapat tambahan omzet sekitar Rp1,054 miliar pada usaha yang menjadi sampel pendataan selama periode pengamatan.
“Artinya, sekitar tiga dari empat observasi usaha menunjukkan adanya peningkatan aktivitas penjualan dibandingkan kondisi normal,” jelas Iskandar.
Menurutnya, peningkatan tersebut memperlihatkan bahwa penyelenggaraan festival berpotensi memberikan manfaat ekonomi kepada berbagai sektor usaha.
Pergerakan pengunjung dan meningkatnya aktivitas masyarakat selama kegiatan berlangsung turut membuka peluang transaksi bagi pelaku usaha di luar kawasan acara.
Dari sisi persentase, sektor transportasi mencatat kenaikan omzet tertinggi, yakni sekitar 88,86 persen, disusul sektor akomodasi sebesar 50,7 persen.
Sementara itu, berdasarkan nominal omzet, sektor perdagangan dan kuliner menjadi dua sektor dengan nilai terbesar.
“Ini menunjukkan bahwa manfaat ekonomi dari sebuah festival dapat menjalar ke berbagai sektor usaha, tidak hanya terbatas pada aktivitas yang berlangsung di lokasi acara,” ungkapnya.
Selain aktivitas usaha, BPS Kabupaten Nunukan juga mencatat pengeluaran pemerintah berdasarkan laporan dari 15 organisasi perangkat daerah (OPD) dan unit kerja, dengan total sekitar Rp8,447 miliar.
Jika digabungkan dengan omzet usaha yang terdata, nilai bruto kedua komponen tersebut mencapai sekitar Rp12,604 miliar.
Namun, Iskandar menegaskan bahwa angka tersebut merupakan rekapitulasi bruto dan tidak dapat langsung diartikan sebagai dampak ekonomi bersih dari penyelenggaraan Paras Festival 2026.
“Perlu kami tekankan bahwa angka ini merupakan rekapitulasi bruto dari komponen yang dicatat, bukan keseluruhannya tambahan pendapatan atau dampak ekonomi bersih,” tegasnya.
Di sisi lain, hasil pendataan juga menunjukkan bahwa peningkatan omzet belum dirasakan oleh seluruh usaha yang diamati.
Sebanyak 25,5 persen observasi usaha mengalami penurunan omzet selama periode festival.
Temuan tersebut menjadi bahan evaluasi agar penyelenggaraan kegiatan serupa ke depan dapat memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas dan merata.
Penguatan keterlibatan pelaku usaha, perluasan peluang promosi, serta peningkatan pergerakan pengunjung dapat menjadi bagian dari upaya mengoptimalkan dampak kegiatan terhadap perekonomian daerah.
Iskandar berharap hasil pendataan tersebut dapat dimanfaatkan Pemerintah Kabupaten Nunukan sebagai salah satu dasar evaluasi dalam mengembangkan kegiatan daerah yang tidak hanya menghadirkan hiburan dan ruang kreativitas, tetapi juga mendorong pertumbuhan aktivitas ekonomi masyarakat.
“Harapan kami, Paras Festival tidak hanya menjadi kegiatan tahunan yang meriah, tetapi juga mampu menjadi salah satu penggerak ekonomi lokal yang berkelanjutan. BPS Kabupaten Nunukan siap mendukung pemerintah daerah melalui penyediaan data yang objektif dan berkualitas sebagai dasar pengambilan kebijakan,” tutupnya. (*)








Discussion about this post