MALINAU — Di sebuah ruang tamu sederhana di Malinau, selembar demi selembar kain pernah menjadi awal perjuangan Tri Listyowati, meja untuk mengecap batik diletakkan di ruang tamu rumah, siang hingga malam, ia mengerjakan sendiri seluruh proses produksi.
Mengecap, memberi warna, mencuci, menjemur hingga menjual hasil batik, semuanya dilakukan seorang diri.
Saat itu, belum ada butik besar, belum ada dua cabang usaha, belum pula ada belasan perajin yang ikut terlibat, namun, dari ruang tamu itulah perjalanan Batik Busak Uwe dimulai.
Usaha yang dirintis pada akhir 2014 itu kini tidak hanya berkembang menjadi salah satu produk batik khas Kalimantan Utara, tetapi juga membuka lapangan pekerjaan bagi ibu-ibu rumah tangga serta membawa produknya hingga ke panggung pameran tingkat nasional.
Ketertarikan Tri terhadap dunia batik bermula ketika mengikuti pelatihan yang diselenggarakan pemerintah daerah.
Sebelum menemukan batik, ia sempat mengikuti sejumlah pelatihan keterampilan, namun, dari berbagai pelatihan yang pernah diikuti, membatik menjadi bidang yang paling menarik hatinya.
“Pas ada yang namanya batik, kok kayaknya saya tertarik. Jadi cocok,” cerita Tri, Kamis (27/8/2026).
Meski telah mengikuti pelatihan, Tri belum langsung berani membuka usaha, keinginan tersebut baru semakin kuat setelah pelatihan membatik kembali berlanjut.
Dari pelatihan itu, ia mulai memiliki peralatan dan bahan dasar untuk mencoba membuat batik sendiri.
Pada akhir 2014, Tri akhirnya memberanikan diri memulai usaha. Awalnya, semua dilakukan sendiri dari rumah.
Ruang tamu berubah menjadi tempat produksi, sebuah meja digunakan untuk mengecap kain, ketika siang hari pekerjaan rumah dan proses produksi menguras tenaga, malam hari menjadi waktu untuk melanjutkan pekerjaan.
“Saya ngecap itu di ruang tamu, meja saya taruh di ruang tamu, malam pun saya kerja di situ,” ujarnya.
Satu lembar kain, dua lembar kain, hingga beberapa lembar batik menjadi hasil kerja yang harus dikerjakan sendiri mulai dari proses awal hingga selesai.
Namun, Tri tidak ingin berhenti sebagai perajin seorang diri, keinginan untuk mengembangkan usaha membuat Tri mengambil keputusan besar, ia menjual sebagian tanah miliknya untuk mendatangkan pelatih batik dari Jawa, dari hasil penjualan tanah tersebut, Tri memperoleh modal sekitar Rp27 juta.
Uang itu tidak hanya digunakan untuk mengembangkan usaha, tetapi juga untuk memberikan pelatihan kepada orang-orang di sekitar tempat tinggalnya.
Pelatih yang didatangkan mengajarkan berbagai proses membatik, mulai dari menggambar, mencanting, hingga proses produksi lainnya.
Setelah pelatihan selesai, Tri menawarkan kesempatan kepada para peserta untuk bergabung dan bekerja bersamanya, tawaran itu mendapat respons positif.
Mereka yang sebelumnya datang sebagai peserta pelatihan kemudian menjadi perajin Batik Busak Uwe, dari seorang diri, usaha Tri mulai tumbuh menjadi usaha bersama.
Membangun pasar pada masa awal menjadi tantangan tersendiri, ketika itu, penggunaan batik khas daerah belum seperti sekarang, promosi melalui media sosial juga belum menjadi bagian penting dari strategi pemasaran.
Tri harus memperkenalkan produknya secara langsung, ia membawa batik ke berbagai tempat dan menawarkan hasil produksinya kepada calon pembeli.
“Dulu saya seperti sales, batik itu saya tenteng ke mana-mana, saya tawarkan,” katanya.
Setiap ada kegiatan atau pertemuan, batik dibawa untuk diperkenalkan, cara sederhana itu menjadi strategi awal untuk membangun kepercayaan pasar.
Titik balik kemudian datang ketika Bupati Malinau saat itu, Yansen, membeli produk batiknya.
Tri mengenang, saat itu ia diminta membawa batik dan datang dengan sekitar 100 lembar kain, di luar perkiraannya, seluruh batik tersebut diborong habis.
Pembelian itu menjadi salah satu momen penting yang memberikan semangat besar bagi Tri untuk terus mengembangkan usahanya.
“Waktu itu saya bawa 100 lembar dan diborong habis, kurang lebih Rp11 juta. Itu pembelian pertama yang benar-benar memberikan saya semangat,” ujar Tri.
Perkembangan usaha juga semakin terbantu ketika penggunaan batik khas daerah mulai didorong melalui kebijakan pemerintah daerah yang mewajibkan pegawai mengenakan batik khas daerah.
Batik yang sebelumnya harus dibawa dan ditawarkan langsung kepada calon pembeli mulai semakin dikenal masyarakat.

Dalam perjalanan Batik Busak Uwe, Tri menilai pembinaan yang diterimanya dari Bank Indonesia menjadi salah satu bagian penting dalam perkembangan usaha.
Menurutnya, pendampingan yang diberikan tidak hanya berbicara tentang bagaimana membuat produk atau meningkatkan kemampuan teknis.
Lebih dari itu, pembinaan memberikan cara pandang atau mindset tentang bagaimana sebuah usaha harus terus berkembang.
“Pembinaan dari BI selama ini terutama memberikan mindset bagaimana usaha bisa terus berkembang,” kata Tri.
Melalui pendampingan tersebut, Tri juga mendapatkan kesempatan untuk mengikuti berbagai kegiatan yang difasilitasi Bank Indonesia, salah satunya adalah kesempatan mengikuti pameran.
Tidak hanya di tingkat lokal, Batik Busak Uwe juga memperoleh kesempatan memperkenalkan produknya dalam pameran di tingkat nasional, sejak 2019, Tri mengaku sudah empat kali mengikuti kegiatan pameran di Jakarta.
Kesempatan tersebut menjadi ruang penting untuk mengenalkan Batik Busak Uwe kepada pasar yang lebih luas.
“Hal itu memberikan ruang bagi kami untuk mengenalkan dan mempromosikan batik kami di kancah nasional,” ujarnya.
Bagi Tri, pendampingan yang diterima juga bersifat praktis dan menyentuh langsung kebutuhan usaha.
Ia mengingat bagaimana mentor yang mendampingi tidak hanya memberikan materi, tetapi juga melihat langsung kondisi usaha dan memberikan masukan mengenai hal-hal yang perlu dibenahi.
Salah satunya mengenai kenyamanan toko, ketika usaha mulai berkembang, Tri mendapat pertanyaan sederhana dari mentor mengenai kondisi tempat usahanya.
Apakah toko sudah cukup nyaman bagi pelanggan? Jika belum nyaman dan terasa panas, apa yang perlu dilakukan? Jawabannya kemudian diterapkan secara langsung.
“Kami ditanya, tokonya sudah ada atau belum, kalau sudah ada yang belum nyaman apa. Kalau mau nyaman, tokonya harus adem. Kalau mau adem dikasih apa? Ya dikasih kipas angin atau AC. Besoknya kami pasang,” cerita Tri.
Pendampingan tersebut juga mendorongnya untuk melihat kembali kapasitas tempat usaha, toko yang semula kecil kemudian dinilai perlu diperluas. Tri pun mengikuti masukan tersebut.
Jika sebelumnya ukuran toko sekitar 4 x 6 meter, kini tempat usaha tersebut telah diperluas menjadi sekitar 8 x 8 meter.
“Dulu toko saya kecil, setelah ikut pembinaan, lama-lama diperbaiki dan diperlebar,” ujarnya.
Dari proses pendampingan tersebut, Tri belajar bahwa pengembangan UMKM tidak hanya berkaitan dengan meningkatkan produksi.
Kenyamanan konsumen, tampilan tempat usaha, kapasitas toko hingga kesiapan menghadapi pasar juga menjadi bagian dari pertumbuhan usaha.
Kesempatan mengikuti pameran menjadi pengalaman penting bagi Batik Busak Uwe.
Sejak 2019, Tri telah empat kali membawa produknya mengikuti kegiatan di Jakarta melalui fasilitasi Bank Indonesia.
Bagi UMKM yang sebelumnya tumbuh dari ruang tamu rumah, kesempatan tampil dalam pameran tingkat nasional merupakan lompatan besar.
Dari Malinau, produk batik yang awalnya dipromosikan dengan cara dibawa dari satu pertemuan ke pertemuan lainnya kini dapat diperkenalkan kepada pasar yang lebih luas.
Pameran menjadi tempat untuk memperluas jaringan, mengenalkan produk dan membaca perkembangan pasar.
Perjalanan itu kemudian mendorong Batik Busak Uwe untuk terus berkembang.
Selain penjualan secara langsung, pemasaran kini juga dilakukan secara digital.
Produk Batik Busak Uwe dipromosikan melalui sejumlah platform media sosial seperti WhatsApp, TikTok dan Instagram.
Perubahan tersebut menjadi bagian dari strategi menghadapi perkembangan pasar dan persaingan.
Usaha yang dahulu hanya dikerjakan dari rumah kini telah berkembang.
Batik Busak Uwe saat ini memiliki tempat usaha di dua lokasi, yakni Malinau Hilir, Kec. Malinau Kota, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara dan Jl. Meranti, Tj. Selor Hilir, Kec. Tj. Selor, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara.
Perkembangan tersebut menjadi gambaran perjalanan usaha yang dibangun secara bertahap.
Dari modal awal yang terbatas, Tri mampu terus memutar hasil usaha.
Keuntungan yang diperoleh kembali digunakan untuk mengembangkan usaha dan meningkatkan kapasitas.
“Alhamdulillah, dari usaha ini semua bisa kembali modal. Bisa beli mobil, bangun rumah bahkan membeli tanah,” kata Tri.
Namun, perjalanan tersebut tidak berarti tanpa tantangan, jika pada masa awal jumlah pembatik dan pelaku usaha sejenis masih terbatas, kondisi kini sudah berbeda, persaingan semakin banyak.
Tri mengatakan, perkembangan jumlah pembatik membuat dirinya harus terus melakukan inovasi, motif tidak bisa dibiarkan sama.
Produk harus terus disesuaikan dengan perkembangan selera dan keinginan pelanggan.
“Sekarang pembatik sudah banyak, jadi kita yang harus berinovasi, mengganti motif dan menyesuaikan dengan keinginan pelanggan,” ujarnya, Kamis (27/8/2026).

Pertumbuhan Batik Busak Uwe juga membawa dampak bagi ibu-ibu rumah tangga yang bekerja sebagai perajin.
Salah satunya Dedeh Rhohani, yang telah terlibat dalam perjalanan usaha tersebut sejak masa awal.
Dedeh sebelumnya mengikuti pelatihan membatik bersama Tri, Setelah usaha Batik Busak Uwe berkembang, ia kemudian bergabung sebagai perajin.
Hingga kini, membatik menjadi salah satu sumber penghasilan yang bisa dilakukan di sela-sela mengurus keluarga.
Sistem kerja yang diterapkan memungkinkan sejumlah pekerjaan dibawa pulang dan dikerjakan dari rumah.
Para ibu tidak harus meninggalkan seluruh aktivitas rumah tangga untuk bekerja.
“Sambil mengurus rumah tangga, kita juga bisa kerja, kalau mencanting, bisa dikerjakan di rumah sambil jaga anak,” kata Dedeh.
Saat ini, sekitar 12 orang terlibat dalam berbagai proses produksi, ada yang khusus menggambar motif, mencanting, melakukan pewarnaan hingga proses akhir produksi.
Untuk satu lembar kain, waktu pengerjaan bergantung pada tingkat kesulitan motif. Motif sederhana dapat dikerjakan dalam waktu lebih singkat.
Namun, untuk motif penuh dengan detail yang rumit, pengerjaan satu kain dapat memakan waktu hingga satu minggu, upah perajin juga menyesuaikan tingkat kesulitan pekerjaan.
Untuk pekerjaan mencanting motif sederhana, upah berada di kisaran Rp35 ribu hingga Rp45 ribu.
Sementara motif penuh yang lebih rumit dapat memberikan upah sekitar Rp150 ribu per kain.
Menurut Tri, ada perajin yang dengan intensitas kerja tertentu dapat memperoleh penghasilan hingga lebih dari Rp3 juta.
Bagi para ibu rumah tangga, pekerjaan tersebut menjadi tambahan penghasilan untuk membantu ekonomi keluarga.
Seiring perkembangan kualitas dan variasi produk, Batik Busak Uwe kini menawarkan beragam jenis batik dengan rentang harga yang berbeda.
Untuk kain batik tulis atau kain yang dikerjakan dengan teknik mencanting, harga produk berada di kisaran Rp250 ribu hingga Rp1,4 juta.
Sementara produk batik cap berada pada kisaran Rp200 ribu hingga Rp2,5 juta, tergantung motif, bahan dan tingkat pengerjaan.
Perbedaan harga mencerminkan proses yang dilakukan di balik selembar kain.
Semakin rumit motif dan semakin panjang proses pengerjaan, semakin tinggi pula nilai produk.

Seorang pelanggan, Rokhmah Kristaaningrum, mengaku telah beberapa kali membeli produk Batik Busak Uwe, baik untuk digunakan sendiri maupun diberikan kepada keluarga dan kerabat.
Menurut Rokhmah, kualitas bahan, warna dan model menjadi alasan dirinya tertarik.
“Bagus, modelnya juga bagus, warnanya oke, dan motifnya lumayan mengikuti perkembangan,” ujarnya.
Ia juga menilai harga produk sesuai dengan kualitas bahan dan hasil pengerjaan. (*)
Penulis : Agnes Syinthia








Discussion about this post