TANJUNG SELOR – Tekanan inflasi di wilayah perdesaan Kalimantan Utara berdampak pada melemahnya Nilai Tukar Petani (NTP) pada Januari 2026. BPS Provinsi Kalimantan Utara mencatat NTP turun 0,34 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Kepala BPS Kaltara, Dr. Mustaqim SST., SE., M.Si., menyampaikan bahwa kenaikan harga barang konsumsi dan biaya produksi menjadi faktor utama penurunan tersebut.
“Indeks harga yang dibayar petani naik 0,09 persen, sedangkan indeks harga yang diterima petani justru turun. Ini menjadi sinyal adanya tekanan inflasi terhadap petani,” jelas Mustaqim.
Penurunan NTP paling terasa pada subsektor tanaman perkebunan rakyat, disusul hortikultura dan tanaman pangan. Harga komoditas sayur-sayuran tercatat turun hingga 2,85 persen, memengaruhi pendapatan petani hortikultura.
Sementara itu, sektor peternakan masih mencatatkan pertumbuhan positif seiring naiknya harga unggas. Begitu pula sektor perikanan tangkap yang mengalami peningkatan nilai tukar nelayan sebesar 0,59 persen.
BPS juga mencatat peningkatan Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) sebesar 0,11 persen. Kenaikan ini menjadi indikator meningkatnya tekanan inflasi di tingkat rumah tangga petani.
Mustaqim menambahkan, meski NTP Kaltara masih berada di atas angka 100, kondisi ini tetap perlu diantisipasi agar tidak berlanjut dan berdampak pada kesejahteraan petani. (*)










Discussion about this post