NUNUKAN – Pukul tiga dini hari, sebagian besar warga Pulau Nunukan masih terlelap, di luar rumah, hujan turun semakin deras, tak seorang pun menyangka, hanya dalam hitungan jam, air akan mengubah suasana yang tenang menjadi kepanikan.
Sekitar pukul 04.00 hingga 04.30 Wita, air mulai datang tanpa peringatan, bukan sekadar genangan yang perlahan meninggi, melainkan arus deras yang menerobos rumah-rumah, menyapu jalan, merendam sekolah, bahkan menyeret kendaraan yang terparkir.
Senin (3/8/2026) dini hari itu akan menjadi pagi yang sulit dilupakan warga Pulau Nunukan dan Pulau Sebatik.
Di Sei Fatimah dan Sei Bilal, Kecamatan Nunukan, air mencapai dada orang dewasa, video yang beredar di media sosial memperlihatkan derasnya arus membawa sebuah mobil hingga beberapa meter sebelum akhirnya tersangkut batang kayu yang hanyut.
Di sisi lain, Sungai Sembilan di Kecamatan Nunukan Selatan menjadi kawasan yang mengalami dampak paling berat. Lebih dari 30 rumah warga terendam bersama sebuah sekolah swasta, sementara di Pulau Sebatik banjir juga menggenangi permukiman dan sejumlah fasilitas umum.
Di balik angka-angka itu, ada kisah warga yang harus menyelamatkan diri ketika malam belum benar-benar berakhir.

Sela masih mengingat jelas dinginnya air yang membangunkannya.
Ia bersama tiga adiknya dan seorang anak kecil sedang tidur ketika hujan mengguyur sejak sekitar pukul 03.00 Wita. Tidak ada tanda-tanda bahwa rumah kontrakan yang mereka tempati akan berubah menjadi lautan kecil dalam waktu singkat.
“Saya baru sadar saat air sudah hampir mengenai telinga,” kenangnya.
Saat membuka mata, air sudah menggenangi seluruh rumah. Kasur tempat mereka tidur ikut terendam. Dalam kepanikan, tidak ada waktu menyelamatkan barang-barang.
Air di dalam rumah mencapai sepinggang orang dewasa, sedangkan di halaman setinggi paha hingga perut.
Seluruh isi rumah basah. Peralatan elektronik rusak. Pakaian tak ada yang tersisa dalam kondisi kering. Bahkan usaha kecil yang selama ini menjadi sumber penghasilannya ikut lumpuh.
“Saya jualan es. Semua perlengkapan usaha ikut terendam,” ujarnya lirih.
Ia menduga air meluap karena saluran drainase tidak mampu lagi menampung debit hujan.
Meski begitu, di tengah kepanikan itu ia bersyukur bantuan mulai berdatangan. anggota dari TNI dan kepolisian ikut membantu proses pembersihan.
Namun rasa syok masih membekas.
“Ini pertama kali banjir separah ini. Anak-anak sudah tidak punya pakaian yang bisa dipakai. Kami berharap ada bantuan kebutuhan dasar agar bisa kembali menjalani aktivitas,” katanya.
Ina, yang rumahnnya berdekatan dengan Sela juga terbangun oleh suara yang tak biasa.
Bukan suara hujan, melainkan dentuman keras dari pintu belakang rumah yang didobrak arus banjir.
“Saya kira ada orang mengetuk. Ternyata pintu sudah didorong air,” tuturnya.
Dalam hitungan sekitar lima menit, air naik hampir setinggi leher orang dewasa. Lumpur ikut masuk ke rumah. Arus datang dari belakang, kemudian air dari depan ikut menerobos sehingga rumah terendam dari dua arah.
Prioritas Ina hanya satu, menyelamatkan anak dan kakaknya yang Tengah mengandung.
Setelah memastikan keluarga berada di tempat aman, ia kembali mencari tiga sepeda motor yang hanyut terbawa arus. Satu motor ditemukan di dekat rumah, satu lagi berada di bawah kolong rumah, sementara kendaraan lainnya harus dievakuasi ke bengkel.
“Saya hanya sempat membawa telepon genggam. Berkas penting, kulkas, kompor, bahan makanan, semuanya rusak. Modal usaha saya habis,” katanya.
Sebagai penjual makanan dan minuman, banjir bukan hanya merendam rumahnya, tetapi juga menghilangkan sumber penghasilan keluarga.
Yang paling membekas baginya bukan semata kerugian material.
“Seumur hidup baru kali ini saya mengalami banjir separah ini.”

Bagi Cice Hernani, usia 47 tahun, banjir kali ini jauh melampaui semua pengalaman yang pernah ia alami.
Saat air naik sekitar pukul 04.00 Wita, ketinggiannya mencapai dada orang dewasa.
Warga panik. Sebagian harus menggunakan tali untuk keluar dari rumah melalui bagian belakang karena arus terlalu deras.
Mobil-mobil yang sebelumnya terparkir perlahan mulai bergeser, kemudian hanyut mengikuti derasnya aliran air.
“Alhamdulillah sebagian tertahan pohon. Kalau tidak, mungkin hanyut lebih jauh,” katanya.
Ia menduga banjir dipicu kombinasi curah hujan yang sangat tinggi, meningkatnya debit air dari hulu, serta kondisi air laut yang sedang pasang sehingga aliran menuju laut tertahan.
“Yang paling penting semua warga selamat. Harta benda masih bisa dicari lagi.”
Di Kelurahan Selisun Kecamatan Nunukan JL. Sungai Sembilan, banjir meninggalkan lumpur tebal di dalam rumah-rumah warga.
Jayna menilai persoalan banjir bukan hanya disebabkan hujan, tetapi juga karena saluran drainase yang tidak lagi mampu mengalirkan air menuju laut.
“Dulu ada dua jalur pembuangan air. Sekarang salurannya menyempit, bahkan ada yang sudah tertutup. Akibatnya air tertahan dan meluap ke permukiman,” jelasnya.
Menurutnya, banjir memang kerap terjadi saat hujan deras, tetapi kejadian kali ini merupakan yang terparah.
Ia berharap pemerintah segera melakukan perbaikan drainase agar persoalan yang sama tidak terus berulang.
Harapan serupa disampaikan Katarina, saat banjir datang, ia berada di lantai atas rumah. Air naik begitu cepat sehingga tempat tidur dan seluruh perabotan tidak sempat dipindahkan.
“Biasanya air naik perlahan. Kali ini berbeda. Dalam waktu singkat semuanya sudah terendam,” katanya.
Begitu air mulai surut, warga tidak menunggu lama.
Mereka bergotong royong membersihkan lumpur, mengangkat perabotan yang masih bisa diselamatkan, dan saling membantu tetangga.
Personel BPBD, PMI, TNI, Polri, pemerintah kelurahan, kecamatan, serta relawan juga turun ke lokasi membantu penyedotan air dan pembersihan rumah warga.

, menyebut hampir seluruh RT 13 Kelurahan Sungai Sembilan terdampak banjir.
Menurutnya, penggunaan mesin pompa dari BPBD sangat membantu mempercepat penyurutan genangan.
Ia juga telah menginstruksikan lurah, Bhabinkamtibmas, Babinsa, dan ketua RT untuk segera mendata seluruh rumah terdampak sebagai dasar penyaluran bantuan.
Selain penanganan darurat, pemerintah kecamatan mengusulkan kajian teknis terhadap saluran air, khususnya pada bukaan di bawah jembatan Sungai Sembilan yang dinilai belum mampu mengalirkan debit air menuju laut secara optimal.

Kepala Bidang Pencegahan, Kesiapsiagaan, Rehabilitasi, dan Rekonstruksi BPBD Nunukan, Yunus Randa Layuk, menjelaskan banjir dipicu oleh curah hujan yang sangat tinggi sejak sekitar pukul 02.00 hingga 07.00 Wita.
Selain hujan, keterbatasan kapasitas drainase dan kondisi air laut yang sedang pasang membuat aliran air menuju laut terhambat sehingga genangan meluas di sejumlah wilayah seperti Sungai Sembilan, Jalan Pattimura, Pattimura Atas, Lumba-Lumba, Pasar Baru, dan Mansapa.
BPBD bersama PMI fokus melakukan evakuasi warga, penyedotan air, serta pembersihan rumah-rumah terdampak. Pendataan terhadap warga yang mengungsi maupun kerusakan infrastruktur juga terus dilakukan.
Yunus mengatakan Bupati Nunukan telah menginstruksikan agar seluruh dampak banjir segera didata. Setelah kembali ke Nunukan, Bupati dijadwalkan meninjau langsung lokasi terdampak untuk memastikan langkah penanganan dan pemulihan dapat segera dilakukan.
Kini air memang telah berangsur surut.
Namun bagi banyak keluarga, pekerjaan besar baru saja dimulai. Lumpur masih memenuhi lantai rumah, perabotan rusak menumpuk di halaman, dan usaha kecil yang menjadi penopang ekonomi keluarga harus dimulai dari awal.
Di tengah kelelahan, warga menyimpan harapan yang sama.
Semoga banjir sebesar ini tidak pernah datang lagi.
Dan jika suatu hari hujan kembali mengguyur Nunukan, mereka berharap saluran air yang lebih baik, mitigasi yang lebih matang, serta kesiapsiagaan semua pihak dapat mencegah musibah serupa terulang.
Sebab bagi warga yang mengalaminya, banjir bukan sekadar air yang meluap. Ia adalah malam yang membangunkan, membawa kepanikan, menguji ketangguhan, sekaligus memperlihatkan kuatnya semangat gotong royong masyarakat Nunukan untuk bangkit bersama. (*)








Discussion about this post