NUNUKAN – Aroma durian menyengat di udara Krayan Tengah, di kebun-kebun warga, buah bergelantungan lebat, langsat menguning, rambutan memerah, mata kucing dan baritem siap petik.
Di tengah panen raya, harga buah nyaris tak bernilai, bukan karena kualitasnya buruk, melainkan karena buah-buah itu sulit keluar dari kampung sendiri.
Jalan darat yang rusak dan sulit dilalui membuat distribusi terhambat, pasar tak terjangkau.
Camat Krayan Tengah, Murjani, mengatakan situasi ini menjadi masalah tahunan yang belum juga teratasi.
“Sekarang ini musim buah, hasilnya melimpah, tapi karena akses darat tidak baik, buah-buah ini tidak bisa dibawa keluar. Akhirnya tidak ada harganya, bahkan mau cari orang untuk makan buah gratis saja susah,” ujarnya, minggu (15/02/2026).
Menurut Murjani, persoalan utama bukan pada produksi, melainkan konektivitas.
Tanpa jalan yang layak, hasil pertanian dan perkebunan warga hanya berputar di wilayah sendiri, padahal, potensi ekonomi yang tersimpan sangat besar.
“Bayangkan saja, gara-gara konektivitas wilayah yang kurang baik, hasil pertanian dan perkebunan menjadi tak bernilai, kalau akses jalan bagus, saya yakin hasil alam Krayan ini pasti ada harganya,” tegasnya.
Ia juga melihat peluang yang belum tergarap, seperti wisata musim buah, dengan akses yang memadai, Krayan Tengah bisa menjadi destinasi unik bagi pecinta buah tropis.
“Kalau akses jalan seperti Malinau–Binuang–Krayan Tengah bisa dilalui tanpa hambatan, orang-orang dari luar pasti datang menikmati buah langsung dari pohonnya, bahkan bisa diprogramkan jadi wisata makan buah, itu akan sangat membantu perekonomian masyarakat,” katanya.
Murjani khawatir, tanpa perbaikan infrastruktur, ekonomi masyarakat akan terus stagnan.
“Kalau kondisi seperti sekarang terus, perkembangan perekonomian masyarakat tidak akan bergerak, tidak ada kemajuan,” tutupnya. (*)











Discussion about this post