KRAYAN – Ketua Fraksi DPRD NasDem sekaligus Ketua Komisi II DPRD Nunukan, Andi Fajrul Syam, S.H., membagikan catatan perjalanannya menuju Krayan Timur, wilayah perbatasan yang hingga kini masih bergulat dengan persoalan infrastruktur dan pelayanan dasar.
Perjalanan menuju Krayan Timur, menurut Andi Fajrul, bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan yang menguji kesabaran dan komitmen negara terhadap wilayah perbatasan.
“Kalau ada yang bilang perjalanan itu romantis, mungkin mereka belum pernah melewati jalan seperti ini,” ujarnya.
Di hari pertama, Selasa (10/02/2026). Bersama angora DPRD Nunukan yang lain, jalan yang dilalui rombongan tidak hanya rusak, tetapi dipenuhi lumpur tebal. Kendaraan berjalan sangat pelan, bahkan lebih sering terasa merayap. Di tengah kondisi itu, Andi Fajrul sempat berkelakar dalam hati bahwa perjalanan ini bukan uji nyali, melainkan uji kebijakan.
Dengan menaiki mobil pickup Toyota Hilux, di kiri dan kanan jalan, hamparan sawah terlihat hijau dan subur. Beragam hasil pertanian warga seperti padi, nanas, dan komoditas kebun lainnya tumbuh dengan baik. Potensi pertanian Krayan Timur dinilai sangat besar. Namun, keindahan itu justru memunculkan kegelisahan.
“Potensinya luar biasa, tapi kemudian saya berpikir, bagaimana warga membawa hasil panen itu ke kota?” katanya.
Menurutnya, satu karung beras saja harus melewati medan berat dengan biaya tambahan yang tidak sedikit. Ongkos angkut membengkak, tenaga terkuras, dan pada akhirnya harga barang ikut naik hanya karena keterbatasan akses jalan.
“Kita sering bicara soal hilirisasi, nilai tambah, dan daya saing. Tapi bagaimana mau bersaing kalau dari ladang ke jalan utama saja sudah seperti ekspedisi alam liar,” tambahnya.
Perjalanan semakin terasa ketika rombongan tiba di sebuah jembatan kayu yang kondisinya memprihatinkan. Jembatan tersebut tampak miring, dengan papan yang mulai renggang. Setiap kendaraan yang melintas seolah disertai doa.
Yang paling menyentuh, kata Andi Fajrul, adalah melihat warga yang melintas dengan tenang, seakan sudah terbiasa dengan kondisi berisiko tersebut.
“Mereka terbiasa dengan kondisi, terbiasa dengan risiko, terbiasa dengan keterbatasan. Dan itu yang paling menyentuh, karena keterbatasan yang dialami terlalu lama akhirnya dianggap normal. Padahal ini tidak seharusnya normal,” ujarnya.
Selain infrastruktur, persoalan kesehatan juga menjadi sorotan. Hingga kini, di kecamatan tersebut belum berdiri puskesmas yang layak, hanya tersedia pos pelayanan terpadu (postu).
“Untuk wilayah perbatasan yang jauh dari pusat kota, ini bukan sekadar kekurangan fasilitas. Ini seperti pesan tak langsung bahwa pelayanan dasar belum sepenuhnya hadir,” kata Andi Fajrul.
Ia menyoroti kondisi warga yang harus melewati jalan berlumpur dan jembatan miring jika mengalami sakit serius. Menurutnya, kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan mendasar tentang keadilan layanan bagi masyarakat perbatasan.
Andi Fajrul menyadari sering muncul alasan bahwa persoalan jalan dan fasilitas kesehatan merupakan kewenangan pemerintah provinsi atau pusat. Namun ia menegaskan, rakyat tidak memilih kewenangan, melainkan memilih pemimpin.
“Pemimpin bukan hanya yang tahu batas administrasi, tetapi yang mau memperjuangkan, meski itu bukan domain langsungnya,” tegasnya.
Ia kembali menekankan bahwa hasil pertanian warga Krayan Timur sangat menjanjikan, namun nilai jualnya tergerus oleh mahalnya biaya logistik akibat buruknya akses. Harga barang menjadi mahal, ekonomi bergerak lambat, dan jawabannya terlihat jelas di medan jalan yang setiap hari dilalui warga.
“Krayan Timur bukan tempat untuk dikunjungi lalu dilupakan. Ia adalah cermin, apakah kita sungguh-sungguh menjadikan perbatasan sebagai prioritas, atau hanya prioritas dalam pidato,” ujarnya.
Menurutnya, selama warga masih harus melewati jalan rusak dan jembatan miring dengan rasa was-was setiap hari, serta pelayanan kesehatan masih sebatas postu, maka pekerjaan pemerintah belum selesai.
“Perbatasan bukan halaman belakang. Perbatasan adalah wajah depan negara. Dan wajah depan tidak boleh kita biarkan seperti ini,” pungkas Andi Fajrul.
Ia berharap catatan perjalanan ini tidak hanya menjadi cerita, tetapi menjadi pengingat bahwa ada warga yang setiap hari berjuang melewati keterbatasan—bukan karena pilihan, melainkan karena tidak ada pilihan lain. (*)








Discussion about this post