Sabtu, September 19, 2026
Kaltara Grande News
Advertisement
  • Home
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
    • Kalimantan Utara
    • Tarakan
    • Bulungan
    • Nunukan
    • Malinau
    • Tana Tidung
    • Kalimantan Timur
    • Kalimantan Selatan
    • Kalimantan Barat
    • Kalimantan Tengah
  • Hukum & Kriminal
  • Politik
  • Ekonomi
  • Pariwisata
  • Pendidikan
  • Opini
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
    • Kalimantan Utara
    • Tarakan
    • Bulungan
    • Nunukan
    • Malinau
    • Tana Tidung
    • Kalimantan Timur
    • Kalimantan Selatan
    • Kalimantan Barat
    • Kalimantan Tengah
  • Hukum & Kriminal
  • Politik
  • Ekonomi
  • Pariwisata
  • Pendidikan
  • Opini
No Result
View All Result
Kaltara Grande News
No Result
View All Result
Home Daerah

Ukub, Tradisi Dayak Agabag yang Menandai Pulihnya Persaudaraan di Nunukan

by Grande Media
18/09/2026
in Daerah, Kalimantan Utara, Nunukan, PEMKAB NUNUKAN
0
Ukub, Tradisi Dayak Agabag yang Menandai Pulihnya Persaudaraan di Nunukan

Prosesi adat Ukub sebagai simbol perdamaian dan pemulihan persaudaraan masyarakat di Kabupaten Nunukan

Share on FacebookShare on Twitter

NUNUKAN – Perdamaian tidak hanya ditandai dengan ikrar dan penandatanganan kesepakatan, di Kabupaten Nunukan, proses penyelesaian dan perdamaian adat atas dugaan penghinaan terhadap masyarakat Dayak juga ditutup dengan sebuah tradisi yang sarat makna, yakni Ukub, tradisi adat Dayak Agabag yang menjadi simbol pemulihan persaudaraan.

Prosesi tersebut berlangsung dalam rangkaian penyelesaian dan perdamaian adat dengan tema “Putus Perselisihan, Perkuat Persaudaraan, Jaga Nunukan Damai”, Rabu (16/09/2026).

Prosesi perdamaian turut disaksikan Bupati Nunukan H. Irwan Sabri, Wakil Bupati Hermanus, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), serta para tokoh lembaga adat dan masyarakat Kabupaten Nunukan.

Usai ikrar dan penandatanganan perdamaian, Ketua Adat K2NTT menyerahkan seekor ayam jantan kepada perwakilan Dayak Agabag yang sekaligus memandu prosesi Ukub.

Ayam tersebut kemudian didoakan sebagai bagian dari prosesi adat, setelah itu, ayam dikibaskan secara perlahan ke atas dan ke bawah.

Dalam pemahaman adat Dayak Agabag, gerakan tersebut memiliki makna mengembalikan kembali sesuatu yang sempat terusik akibat perselisihan.

Prosesi dilanjutkan dengan pengambilan darah ayam yang kemudian ditampung dalam sebuah wadah, ayam tersebut selanjutnya dilepas kembali dalam keadaan hidup.

Darah ayam kemudian menjadi simbol yang ditandai pada dahi masing-masing perwakilan tokoh lembaga adat Dayak dan Ketua Adat K2NTT.

Bagi masyarakat Dayak Agabag, tanda tersebut bukan sekadar rangkaian ritual, melainkan simbol bahwa perselisihan telah diselesaikan dan hubungan persaudaraan kembali dipulihkan.

Tokoh adat Dayak Agabag, Lewi

Tokoh adat Dayak Agabag, Lewi, menjelaskan bahwa prosesi tersebut merupakan bagian dari tradisi adat yang telah disepakati bersama sebagai salah satu bentuk prosesi perdamaian antarsub-suku Dayak di Kabupaten Nunukan.

“Prosesi potong jengkir ayam tadi itu merupakan adat istiadat dari Dayak Agabag yang menjadi kesepakatan bersama dari sub-suku Dayak yang ada di Kabupaten Nunukan untuk prosesi perdamaian, untuk mengembalikan hati kecil yang sempat mungkin terusik,” jelas Lewi.

Menurutnya, penggunaan ayam dalam prosesi tersebut memiliki makna simbolis untuk menandai bahwa persoalan dan luka akibat perselisihan telah dipulihkan sehingga hubungan yang sebelumnya terganggu dapat kembali sebagai satu keluarga dan persaudaraan.

“Ini merupakan sebuah tradisi kami di Dayak Agabag bahwa kalau ada persoalan perselisihan di antara sesama, untuk mengembalikan persaudaraan itu dibutuhkan seekor ayam untuk menandai dalam bentuk darahnya. Segala sesuatu persoalan perselisihan yang telah terjadi dipulihkan kembali,” ujarnya.

Lewi menjelaskan, darah yang ditandai pada dahi menjadi simbol bahwa hati yang sebelumnya terluka telah mendapatkan pemulihan melalui prosesi perdamaian.

“Ditandai di dahi itu bahwa hati yang terluka ini sudah terobati lewat tanda darah itu,” katanya.

Sementara itu, doa yang mengiringi prosesi menjadi bentuk permohonan kepada leluhur dan alam agar perdamaian yang telah dilakukan dapat menjadi ikatan persaudaraan yang kembali terjalin.

“Bentuk doa itu permisi kepada leluhur kita, kepada alam, dan juga menyampaikan semacam doa bahwa kami ini melakukan perdamaian, persaudaraan di antara kami,” jelasnya.

Lewi juga menerangkan makna ayam yang dikibaskan dalam prosesi tersebut. Dalam bahasa Dayak Agabag, rangkaian itu disebut “Kukub”, yang memiliki makna mengembalikan sesuatu kepada diri.

Menurutnya, sebuah perselisihan dapat menimbulkan keterkejutan dan gejolak batin, karena itu, prosesi tersebut dimaknai sebagai simbol untuk mengembalikan kembali ketenangan dan menyatukan hati setelah persoalan diselesaikan.

“Dengan adanya peristiwa ini mungkin hati kita kaget dan ada roh-roh yang mungkin dari dalam diri kita yang spontan keluar, dikembalikan dalam bentuk yang ini tadi, dengan ayam yang dikibas. Kalau bahasa kami dalam bahasa Dayak Agabag, kukub, artinya mengembalikan kepada diri kita,” ungkap Lewi.

Ia menegaskan, ayam yang digunakan dalam prosesi tersebut tidak menjadi bagian dari tindakan kekerasan, setelah prosesi pengambilan darah, ayam dilepas kembali dalam keadaan hidup.

“Masih aman, ayam dilepas begitu saja, karena hati yang terluka semua kita berikan ke dirinya ayam itu tadi, dia menyatukan itu,” tuturnya.

prosesi darah ayam yang ditandai pada dahi masing-masing perwakilan tokoh lembaga adat dan Ketua Adat K2NTT

Dalam tradisi Dayak Agabag, prosesi semacam ini dapat digunakan dalam penyelesaian berbagai bentuk perselisihan, seperti perkelahian, sengketa, maupun persoalan lain yang membutuhkan pemulihan hubungan antarpihak.

Bahkan, menurut Lewi, tradisi tersebut juga dapat menjadi simbol untuk membangun ikatan persaudaraan antara orang-orang yang sebelumnya belum saling mengenal.

“Misalnya kita tidak mengenal siapa dia, tapi ada persoalan yang lain, untuk menjalin persaudaraan ini ditandai dengan Ukub dan darah dari ayam itu yang ditandai di dahi,” katanya.

Lebih jauh, Lewi berharap perdamaian yang telah dicapai dapat menjadi momentum untuk memperkuat kerukunan seluruh masyarakat di Kabupaten Nunukan.

Ia mengajak seluruh sub-suku yang hidup berdampingan untuk tidak mudah terprovokasi, terlebih ketika muncul informasi yang belum jelas kebenarannya.

“Harapannya tentu sama dengan apa yang menjadi harapan Pak Bupati tadi, bahwa seluruh sub-suku yang ada hidup berdampingan di kabupaten ini selalu rukun dan damai dan juga tidak terlalu cepat mengambil sikap ketika ada persoalan atau berita-berita hoaks yang terjadi,” ujarnya.

Ia berharap semangat persaudaraan tersebut terus dijaga sebagai bagian dari upaya bersama membangun Kabupaten Nunukan.

“Harapan kami supaya kita ini tetap satu untuk berjuang bersama membangun Nunukan ini lebih baik,” pungkasnya.

Bagi masyarakat Dayak Agabag, Ukub menjadi salah satu cara untuk menerjemahkan perdamaian dalam simbol budaya.

Sementara bagi Kabupaten Nunukan yang dihuni beragam suku dan latar belakang, pesan yang dibawa dari prosesi tersebut menjadi pengingat bahwa perbedaan dapat dirawat melalui dialog, penghormatan terhadap adat, dan semangat persaudaraan. (*)

Previous Post

Wakapolda Kaltara Ingatkan Personel Ditsamapta Jaga Disiplin dan Hindari Pelanggaran

Next Post

Perkuat Konservasi TN Kayan Mentarang, Pemkab Nunukan dan Balai TNKM Tingkatkan Sinergi

Berita Lainnya

Musrenbangcam 2028, Sekda Malinau Minta Usulan Pembangunan Tak Sekadar Keinginan
Kalimantan Utara

Musrenbangcam 2028, Sekda Malinau Minta Usulan Pembangunan Tak Sekadar Keinginan

18/09/2026
Tim SAR Brimob Polda Kaltara Quick Response Bantu Penanganan Kebakaran di Karang Rejo
Kalimantan Utara

Tim SAR Brimob Polda Kaltara Quick Response Bantu Penanganan Kebakaran di Karang Rejo

18/09/2026
Dua Jabatan Strategis Polda Kaltara Berganti, Kapolda Pimpin Langsung Sertijab
Kalimantan Utara

Dua Jabatan Strategis Polda Kaltara Berganti, Kapolda Pimpin Langsung Sertijab

18/09/2026
Perkuat Konservasi TN Kayan Mentarang, Pemkab Nunukan dan Balai TNKM Tingkatkan Sinergi
Daerah

Perkuat Konservasi TN Kayan Mentarang, Pemkab Nunukan dan Balai TNKM Tingkatkan Sinergi

18/09/2026
Wakapolda Kaltara Ingatkan Personel Ditsamapta Jaga Disiplin dan Hindari Pelanggaran
Kalimantan Utara

Wakapolda Kaltara Ingatkan Personel Ditsamapta Jaga Disiplin dan Hindari Pelanggaran

17/09/2026
Balai TNKM Lihat Potensi SEA Lanuka
Daerah

Balai TNKM Lihat Potensi SEA Lanuka

17/09/2026
Next Post
Perkuat Konservasi TN Kayan Mentarang, Pemkab Nunukan dan Balai TNKM Tingkatkan Sinergi

Perkuat Konservasi TN Kayan Mentarang, Pemkab Nunukan dan Balai TNKM Tingkatkan Sinergi

Dua Jabatan Strategis Polda Kaltara Berganti, Kapolda Pimpin Langsung Sertijab

Dua Jabatan Strategis Polda Kaltara Berganti, Kapolda Pimpin Langsung Sertijab

Tim SAR Brimob Polda Kaltara Quick Response Bantu Penanganan Kebakaran di Karang Rejo

Tim SAR Brimob Polda Kaltara Quick Response Bantu Penanganan Kebakaran di Karang Rejo

Discussion about this post

Kaltara Grande News

Tentang Kami

  • Home
  • Iklan & Advetorial
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi & Manajemen
  • Standar Perlindungan Profesi Wartawan

Follow Us

Copyright © 2022, PT Media Grande Kaltara.

error: Content is protected !!
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
    • Kalimantan Utara
    • Tarakan
    • Bulungan
    • Nunukan
    • Malinau
    • Tana Tidung
    • Kalimantan Timur
    • Kalimantan Selatan
    • Kalimantan Barat
    • Kalimantan Tengah
  • Hukum & Kriminal
  • Politik
  • Ekonomi
  • Pariwisata
  • Pendidikan
  • Opini

Copyright © 2022, PT Media Grande Kaltara.