NUNUKAN – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan fenomena cuaca ekstrem yang melanda wilayah Kecamatan Krayan, Kabupaten Nunukan, pada Kamis (16/7/2026), merupakan angin kencang (angin ribut) yang dipicu pertumbuhan awan Cumulonimbus, bukan angin puting beliung sebagaimana sempat berkembang di tengah masyarakat.
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas III Yuvai Semaring di Long Bawan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, Darso Purnanto, melalui Tim Forcase Stasiun Meteorologi Kelas III Yuvai Semaring di Long Bawan, Reza, menjelaskan bahwa angin kencang tersebut terjadi akibat proses downdraft, yakni hembusan angin yang bergerak cepat dari dalam awan menuju permukaan bumi saat awan Cumulonimbus berkembang.
“Pada awan Cumulonimbus biasanya terjadi proses downdraft, yaitu hembusan angin yang bergerak cepat dari awan menuju permukaan. Kondisi inilah yang menyebabkan angin kencang saat hujan berlangsung,” jelas Reza, Jumat (17/07/2026).
Menurutnya, fenomena yang terjadi di Krayan berbeda dengan angin puting beliung yang memiliki ciri berupa pusaran angin.
“Kalau puting beliung ada gerakan angin yang berputar. Berdasarkan hasil pengamatan BMKG maupun video yang kami amati, kejadian kemarin lebih mengarah pada angin kencang karena tidak terlihat adanya pola pusaran,” ujarnya.
BMKG mencatat dampak angin kencang hanya terjadi di beberapa wilayah yang saling berdekatan, yakni Long Bawan, Long Kiwan, dan Kampung Baru. Sebagian besar wilayah Krayan lainnya hanya mengalami hujan lebat tanpa disertai angin kencang.
Sebelum cuaca ekstrem terjadi, BMKG bersama Stasiun Meteorologi Juwata Tarakan telah menerbitkan peringatan dini cuaca yang disebarluaskan kepada masyarakat melalui berbagai saluran komunikasi, termasuk grup WhatsApp di wilayah Kecamatan Krayan.
Meski berlangsung kurang dari satu jam, angin kencang tersebut menyebabkan kerusakan pada sejumlah bangunan. Berdasarkan hasil pendataan sementara Pos BPBD Krayan Induk, dua unit rumah warga mengalami kerusakan berat, sementara atap dua bangunan gereja terlepas akibat terpaan angin.
Selain itu, sebuah tower roboh dan menimpa Pos Pengamanan Perbatasan (Pos Pamtas) Long Bawan. Pohon-pohon tumbang juga sempat mengganggu akses masyarakat di beberapa titik.
Beruntung, peristiwa tersebut tidak menimbulkan korban jiwa maupun korban luka.
Menindaklanjuti kejadian itu, Pos BPBD Krayan Induk bersama unsur TNI, Polri, pemerintah kecamatan, pemerintah desa, dan masyarakat bergerak cepat melakukan penanganan di lokasi. Evakuasi warga, pembersihan pohon tumbang, serta pendataan kerusakan dilakukan untuk mempercepat proses pemulihan.
Kepala Pos BPBD Krayan Induk, Mardoni Remon, mengatakan keselamatan masyarakat menjadi prioritas utama dalam penanganan bencana.
“Begitu menerima laporan, kami bersama unsur terkait langsung menuju lokasi untuk memastikan kondisi masyarakat. Syukur tidak ada korban jiwa maupun korban luka. Saat ini fokus kami adalah melakukan pendataan kerusakan, membersihkan lokasi terdampak, serta berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk langkah penanganan selanjutnya,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi semangat gotong royong masyarakat yang secara sukarela membantu membersihkan lingkungan pascakejadian.
“Kolaborasi antara masyarakat, aparat keamanan, dan pemerintah sangat membantu mempercepat proses penanganan dan pemulihan. Semangat kebersamaan ini menjadi kekuatan bagi masyarakat Krayan untuk segera bangkit,” tambahnya.
BPBD Kabupaten Nunukan terus berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Nunukan, BPBD Provinsi Kalimantan Utara, dan instansi terkait guna memastikan kebutuhan penanganan serta pemulihan dapat segera dipenuhi berdasarkan hasil asesmen di lapangan.
Sementara itu, BMKG memperkirakan wilayah Krayan masih berpotensi mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga lebat dalam beberapa hari ke depan karena kondisi atmosfer masih mendukung pertumbuhan awan konvektif. Namun, peluang terjadinya angin kencang dengan karakteristik seperti kejadian Kamis lalu diperkirakan relatif kecil dalam sepekan mendatang.
Masyarakat diimbau tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem, terutama saat hujan disertai angin kencang dan petir. Warga diminta menghindari berteduh di bawah pohon besar maupun bangunan yang rawan roboh serta selalu memantau informasi cuaca resmi yang disampaikan BMKG.
Dengan sinergi pemerintah, aparat keamanan, dan masyarakat, proses pemulihan di wilayah terdampak diharapkan dapat berlangsung cepat sehingga aktivitas warga Krayan kembali berjalan normal. (*)








Discussion about this post