NUNUKAN – Kekayaan alam, budaya, dan kreativitas masyarakat Krayan mendapat panggung dalam perhelatan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2026.
Melalui stan Balai Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM), berbagai potensi lokal dari kawasan pedalaman Kalimantan Utara diperkenalkan kepada pengunjung selama pameran yang berlangsung 20–23 Agustus 2026.
Sebanyak 10 orang tim TNKM turut ambil bagian dalam kegiatan tersebut, stan TNKM tidak hanya menyajikan informasi mengenai keanekaragaman hayati kawasan konservasi, tetapi juga memperkenalkan berbagai produk hasil masyarakat binaan yang mencerminkan kekayaan alam sekaligus budaya Krayan.
Kepala Balai TNKM Seno Pramudito, S.Hut., M.E., melalui Kepala SPTN Wilayah I Long Bawan, Hery Gunawan, S.Hut., mengatakan produk-produk lokal tersebut sengaja ditampilkan sebagai bagian dari upaya memperkenalkan potensi masyarakat yang hidup di sekitar kawasan TNKM.
“Di stan kami menyajikan informasi mengenai potensi keanekaragaman hayati kawasan dan produk kerajinan masyarakat binaan,” kata Hery, Minggu (23/8/2026).

Beragam hasil bumi menjadi daya tarik tersendiri. Pengunjung dapat melihat sekaligus mengenal sejumlah produk khas Krayan, mulai dari beras Adan, garam gunung, gula tebu, madu hingga kopi robusta yang dihasilkan masyarakat di dataran tinggi.
Dari berbagai produk tersebut, beras Adan, garam gunung dan kopi robusta menjadi produk hasil masyarakat Krayan yang paling banyak dibeli pengunjung.
“Kalau dari produk hasil masyarakat Krayan, yang banyak dibeli pengunjung itu beras Adan, garam gunung dan kopi,” ujar Hery.
Kopi robusta Krayan menjadi salah satu produk yang menarik perhatian karena berasal dari wilayah dataran tinggi dengan karakteristik alam yang khas. Selain memiliki nilai ekonomi, produk tersebut juga menggambarkan potensi pertanian masyarakat di kawasan perbatasan.
Tak hanya hasil bumi, kekayaan budaya masyarakat lokal turut mendapat tempat di stan TNKM. Salah satunya Rong Basung, kerajinan tradisional masyarakat Krayan yang diwariskan secara turun-temurun.
Kerajinan tersebut menunjukkan keterampilan masyarakat dalam memanfaatkan bahan-bahan alam untuk menghasilkan karya yang tidak hanya memiliki nilai guna, tetapi juga menyimpan nilai budaya.
Kehadiran Rong Basung bersama kerajinan manik-manik, anyaman dan berbagai produk lokal lainnya membuat stan TNKM tidak sekadar berbicara tentang konservasi, stan tersebut juga menghadirkan wajah masyarakat yang hidup berdampingan dengan alam dan menjaga warisan budaya mereka.
Stan TNKM turut dilengkapi informasi mengenai keanekaragaman hayati, bentang alam serta potensi wisata Taman Nasional Kayan Mentarang.
Pengunjung dapat melihat gambaran mengenai kekayaan alam kawasan konservasi sekaligus mengenal masyarakat dan produk yang tumbuh di sekitarnya.
Bagi TNKM, keterlibatan masyarakat merupakan bagian penting dalam menjaga dan melindungi hutan dan keanekaragaman hayati, juga bagaimana masyarakat di sekitar kawasan dapat mempertahankan budaya sekaligus mengembangkan potensi ekonomi secara berkelanjutan. (*)








Discussion about this post