SEBATIK – Malam itu di Desa Tanjung Karang, Pulau Sebatik, suasana begitu hidup meski lampu panggung hanya sederhana. Lantunan ayat suci Al-Qur’an menggema lembut, menembus angin malam perbatasan, sementara warga dari beberapa desa berkumpul dengan penuh khidmat menyaksikan penutupan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat kecamatan.
Kegiatan tahunan ini digelar tanpa dukungan anggaran dari pemerintah kabupaten. Namun semangat kebersamaan masyarakat membuat MTQ tetap meriah. Setiap desa berinisiatif mengumpulkan iuran agar lomba keagamaan ini dapat berjalan lancar, membuktikan bahwa keterbatasan fisik tak mengurangi semangat keagamaan warga Sebatik.
Hadir di tengah keramaian, H. Ladullah, Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) sekaligus politisi PKS dari dapil Nunukan dan anggota Komisi I, tampak mengamati setiap momen dengan saksama. Ia menyapa panitia, melihat para peserta bersiap membaca Al-Qur’an, dan memastikan setiap detail acara berlangsung tertib.
“Saya hadir sebagai undangan sekaligus mewakili DPD Kalimantan Utara. Saya sangat mengapresiasi pemerintah desa dan kecamatan, khususnya Desa Tanjung Karang, atas terselenggaranya MTQ tingkat kecamatan yang cukup meriah,” ujar H. Ladullah.
Ia menekankan, meski tanpa dukungan anggaran pemerintah kabupaten, gotong royong masyarakat menjadi kunci terselenggaranya MTQ. “Alhamdulillah, pelaksanaannya cukup sukses dan meriah. Ini bukti bahwa semangat kebersamaan dan nilai keagamaan tetap hidup di Sebatik,” katanya.
Di sela kegiatan, H. Ladullah berbincang singkat dengan panitia, menanyakan persiapan lomba, serta memberikan motivasi agar acara keagamaan tetap menjadi wadah pembinaan generasi muda. Ia berharap ke depan, pemerintah daerah dapat memberikan dukungan anggaran minimal sebagian, agar pelaksanaan MTQ tidak sepenuhnya bergantung pada swadaya masyarakat.
“Dukungan pemerintah penting agar kegiatan seperti ini bisa lebih maksimal dan menjadi wadah mencetak generasi muda yang berprestasi dan mencintai Al-Qur’an,” tegasnya.
Malam itu, panggung sederhana dan lampu sorot menjadi saksi betapa MTQ bukan hanya ajang lomba membaca Al-Qur’an. Lebih dari itu, acara ini memperkuat ikatan antar warga, mempererat silaturahmi antar desa, dan meneguhkan nilai keagamaan sebagai fondasi kehidupan masyarakat perbatasan.
Bagi H. Ladullah, kehadiran di MTQ Sebatik adalah kesempatan untuk menyaksikan sendiri semangat masyarakat yang menjaga tradisi keagamaan. Ia melihat bahwa meski berada di wilayah perbatasan dan terbatas fasilitas, warga Sebatik mampu mempertahankan nilai-nilai spiritual, solidaritas, dan gotong royong.
Lampu panggung yang memantul di wajah peserta, lantunan ayat Al-Qur’an yang mengalun di udara malam, serta sorak-sorai panitia menjadi simbol kehidupan yang hangat di ujung perbatasan, di mana iman dan kebersamaan tetap menjadi cahaya bagi masyarakat Sebatik. (*)











Discussion about this post