TARAKAN – Di balik kesederhanaannya, sebuah kebun di Kelurahan Juata Permai, Tarakan Utara menyimpan cerita tentang harapan dan ketekunan. Deretan tanaman labu Jepang tumbuh subur di lahan yang tak begitu luas, namun mampu menghadirkan daya tarik tersendiri bagi warga sekitar.
Kebun ini dikelola oleh Kelompok Tani Flora Fauna Mandiri yang dipimpin Darmawan. Ia menyebut, keberadaan kebun ini lebih dari sekadar tempat bertani—melainkan bentuk semangat untuk terus bergerak di tengah keterbatasan.
“Luasnya memang hanya satu petak dengan sekitar 200-an pohon. Tapi ini kami jadikan contoh dan motivasi bagi teman-teman petani agar tetap semangat mengelola lahan,” ungkapnya, Minggu (05/04/2026).
Tak hanya menghasilkan panen, kebun ini perlahan menjadi ruang baru bagi masyarakat. Warga mulai berdatangan untuk merasakan pengalaman memetik langsung labu, sekaligus menikmati suasana alam yang asri. Bahkan, banyak yang menjadikannya sebagai lokasi berfoto hingga membuat konten media sosial.
Fenomena ini membuka peluang baru bagi pengembangan wisata tani di wilayah tersebut. Namun, menurut Darmawan, rencana tersebut masih membutuhkan dukungan berbagai pihak.
“Ke depan kami ingin mengembangkan lebih banyak komoditas, seperti melon dan semangka seperti yang pernah kami tanam sebelumnya. Tapi tentu perlu biaya dan perencanaan yang matang,” jelasnya.
Camat Tarakan Utara, Sisca Maya Crenata, menilai upaya yang dilakukan kelompok tani ini sebagai langkah positif yang patut didukung bersama.
“Ini contoh nyata bahwa masyarakat memiliki potensi besar. Ketika mereka sudah berinisiatif dan berkarya, maka pemerintah harus hadir untuk mendukung dan membersamai,” ujarnya.
Ia juga mengajak masyarakat untuk turut berpartisipasi dengan mengunjungi dan mendukung keberadaan kebun tersebut.
“Kalau bukan kita yang meramaikan dan mendukung, siapa lagi? Tempat ini bukan hanya wisata sederhana, tetapi juga sarana edukasi bagi masyarakat dan kelompok tani lainnya,” tambahnya.
Kini, kebun labu Jepang di Juwata Permai bukan sekadar lahan pertanian. Ia telah menjadi simbol kecil dari semangat besar—tentang bagaimana kerja keras, kebersamaan, dan harapan dapat tumbuh dari tanah yang digarap dengan penuh ketulusan.
Di wisata petik labu Jepang ini, warga maupun pengunjung tidak hanya bisa menikmati suasana kebun dan pengalaman memetik langsung, tetapi juga membawa pulang hasil panen sebagai buah tangan. Labu Jepang atau kabocha yang dipetik dapat dibeli dengan harga Rp17 ribu per kilogram.
Labu Jepang dikenal memiliki rasa yang manis alami dengan tekstur lembut dan sedikit pulen setelah dimasak. Daging buahnya berwarna kuning cerah, padat, dan cocok diolah menjadi berbagai hidangan seperti kolak, sup, hingga kue.
Tak hanya lezat, labu Jepang juga memiliki beragam khasiat bagi kesehatan. Kandungan seratnya baik untuk pencernaan, vitamin A membantu menjaga kesehatan mata, sementara antioksidan di dalamnya dapat meningkatkan daya tahan tubuh.
Dengan kualitas rasa dan manfaat yang dimiliki, labu Jepang dari kebun ini menjadi pilihan tepat sebagai oleh-oleh sehat sekaligus kenangan dari pengalaman wisata petik di Tarakan Utara.(*ma)











Discussion about this post