Senin, September 7, 2026
Kaltara Grande News
Advertisement
  • Home
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
    • Kalimantan Utara
    • Tarakan
    • Bulungan
    • Nunukan
    • Malinau
    • Tana Tidung
    • Kalimantan Timur
    • Kalimantan Selatan
    • Kalimantan Barat
    • Kalimantan Tengah
  • Hukum & Kriminal
  • Politik
  • Ekonomi
  • Pariwisata
  • Pendidikan
  • Opini
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
    • Kalimantan Utara
    • Tarakan
    • Bulungan
    • Nunukan
    • Malinau
    • Tana Tidung
    • Kalimantan Timur
    • Kalimantan Selatan
    • Kalimantan Barat
    • Kalimantan Tengah
  • Hukum & Kriminal
  • Politik
  • Ekonomi
  • Pariwisata
  • Pendidikan
  • Opini
No Result
View All Result
Kaltara Grande News
No Result
View All Result
Home Daerah

Pakan Ikan dari Malaysia Tembus Rp10 Juta Sebulan, Kelompok Mas Muda Krayan Mulai Kembangkan Maggot

by Grande Media
07/09/2026
in Daerah, Ekonomi, Kalimantan Utara, Nunukan
0
Pakan Ikan dari Malaysia Tembus Rp10 Juta Sebulan, Kelompok Mas Muda Krayan Mulai Kembangkan Maggot

Kelompok Mas Muda mengikuti pelatihan pembuatan pakan ikan air tawar (Dok. TNMK)

Share on FacebookShare on Twitter

KRAYAN – Ukurannya kecil, tetapi maggot yang kini dibudidayakan Kelompok Pembudidaya Ikan Air Tawar “Mas Muda” Desa Buduk Tumu, Kecamatan Krayan, Kabupaten Nunukan, mulai membawa harapan besar.

Di tengah tingginya biaya pakan ikan yang selama ini harus didatangkan dari Malaysia, kelompok tersebut perlahan mencoba membangun sumber pakan alternatif secara mandiri melalui budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF).

Upaya itu berawal dari pelatihan pembuatan pakan ikan berbahan baku lokal yang diselenggarakan Balai Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) pada 4–5 Juli 2026, dalam kegiatan tersebut, kelompok diperkenalkan pada pemanfaatan maggot BSF dan Lemna sebagai bahan alternatif pakan ikan.

Bagi Kelompok Mas Muda, kebutuhan pakan selama ini menjadi salah satu tantangan terbesar dalam menjalankan usaha budidaya ikan di wilayah perbatasan.

Dalam satu bulan, kelompok membutuhkan sekitar 20 karung pakan pabrikan, setiap karung berisi 20 kilogram dengan harga sekitar Rp450 ribu hingga Rp500 ribu dan didatangkan dari Malaysia.

Artinya, kebutuhan pakan kelompok mencapai sekitar 400 kilogram per bulan, dengan pengeluaran sekitar Rp9 juta hingga Rp10 juta.

“Pakan pabrikan sangat berpengaruh karena harganya semakin mahal,” ujar Ketua Kelompok Mas Muda, Novri, Senin (07/09/2026).

Kelompok yang terbentuk pada 2023 tersebut saat ini membudidayakan ikan mas, nila dan lele jumbo, sekali panen, produksi ikan sekitar 50 kilogram, hasilnya dipasarkan dari rumah ke rumah serta melalui kios pedagang daging ayam dan ikan.

Di tengah biaya pakan yang cukup besar itu, maggot menjadi salah satu alternatif yang mulai mereka kembangkan.

Balai TNKM tidak hanya memberikan pengetahuan melalui pelatihan, tetapi juga memberikan bibit maggot dan Lemna, serta kandang jaring untuk mendukung pengembangbiakan lalat BSF.

Bagi Novri, bantuan tersebut menjadi awal bagi kelompok untuk membangun siklus budidaya maggot sendiri.

“Sudah ada perkembangan, sudah ada anakan, ini saya bantu tambah lagi untuk indukan supaya bisa dikembangkan lagi,” kata Novri.

Menurutnya, proses pengembangan maggot relatif mudah dilakukan, maggot dapat berkembang dalam waktu sekitar dua minggu, kemudian memasuki tahapan berikutnya hingga menjadi lalat BSF yang nantinya berfungsi sebagai indukan untuk menghasilkan telur.

Telur tersebut kemudian berkembang menjadi anakan maggot yang dapat dimanfaatkan sebagai salah satu bahan pakan ikan.

Budidaya maggot BSF yang dikembangkan Kelompok Pembudidaya Ikan Air Tawar “Mas Muda” Desa Buduk Tumu, Kecamatan Krayan, sebagai bahan alternatif pakan ikan. (Dok.Novri)

Dari bantuan awal yang diberikan TNKM, kelompok kini mulai melihat perkembangan populasi maggot.

Novri memperkirakan jumlah indukan lalat BSF yang dimiliki saat ini telah mencapai sekitar 1.000 ekor.

“Tidak susah juga merawatnya, agak gampang, perkembangannya sudah bagus,” ujarnya.

Meski demikian, kelompok masih berada dalam tahap pengembangan, populasi maggot yang ada belum sepenuhnya mencukupi kebutuhan pakan ikan sehingga untuk sementara waktu pakan pabrikan dari Malaysia masih digunakan.

Namun, semakin berkembangnya populasi maggot memberikan harapan baru bagi kelompok untuk secara bertahap mengurangi ketergantungan terhadap pakan pabrikan.

Novri mengatakan, salah satu pengetahuan penting yang diperoleh melalui pelatihan adalah cara mengembangkan maggot secara bertahap hingga dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan ikan.

“Kami bersyukur karena dari pelatihan ini kami dapat memahami bagaimana membudidayakan maggot secara bertahap,” katanya.

Ia menilai pemanfaatan maggot dan Lemna memiliki potensi besar untuk membantu kelompok menekan biaya produksi.

“Sangat luar biasa dari kedua bahan ini dan itu bisa menekan harga pakan pabrikan,” ujar Novri.

Karena itu, Kelompok Mas Muda berharap pendampingan tidak berhenti pada pelatihan awal, mereka ingin mendapatkan pelatihan lanjutan, terutama untuk mengolah maggot menjadi pelet ikan yang dapat digunakan secara mandiri.

“Ini yang sangat dibutuhkan sekali bagi kelompok sekarang ini untuk membuat pakan mandiri,” ungkapnya.

Peserta Pelatihan Pembuatan Pakan Ikan air tawar Kelompok “Mas Muda”

Pelatihan tersebut menghadirkan Prof. Ir. Ramadhani Eka Putra, S.Si., M.Si., Ph.D., Guru Besar Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) Institut Teknologi Bandung (ITB), sebagai narasumber.

Peserta mendapatkan materi mengenai kebutuhan protein, lemak, karbohidrat dan vitamin bagi ikan air tawar, mereka juga diajak memetakan potensi bahan baku lokal yang tersedia di Desa Buduk Tumu.

Pada sesi praktik, peserta belajar menghitung komposisi bahan, menyiapkan dan menimbang bahan baku, mencampur adonan, mencetak pakan, hingga melakukan pengeringan dan penyimpanan.

Ramadhani mengatakan maggot BSF dan Lemna memiliki peluang untuk dikembangkan masyarakat sebagai bahan pakan alternatif.

“BSF dan Lemna adalah sumber protein yang sangat mungkin dikembangkan secara mandiri oleh masyarakat, bahkan dengan memanfaatkan limbah organik dan lahan basah yang ada di sekitar desa, selain menekan biaya produksi pakan, budidaya kedua bahan ini juga membantu pengelolaan limbah secara berkelanjutan,” ujarnya.

Kepala Balai TN Kayan Mentarang, Seno Pramudito, S.Hut., M.E., mengatakan pendampingan tersebut merupakan bagian dari komitmen Balai dalam mendukung masyarakat di kawasan penyangga taman nasional.

“Pelatihan ini merupakan salah satu bentuk komitmen kami mendampingi masyarakat di kawasan penyangga, khususnya kelompok binaan seperti Mas Muda, agar dapat mengembangkan usaha budidaya ikan air tawar secara mandiri dan berkelanjutan,” ujar Seno.

Menurutnya, kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk perguruan tinggi, diharapkan dapat terus dilakukan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat sekaligus mendukung pengelolaan kawasan secara berkelanjutan.

Bagi Mas Muda, perjalanan menuju kemandirian pakan belum selesai. Namun, perkembangan budidaya maggot yang kini mulai terlihat memberi keyakinan bahwa solusi atas mahalnya pakan dapat dicari dari potensi yang ada di sekitar mereka.

Dari bibit yang diberikan TNKM, kelompok mulai membangun siklus baru, dari indukan lalat BSF, telur, anakan, hingga maggot yang nantinya dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan ikan.

Jika pengembangannya berhasil dan produksi maggot semakin banyak, kebutuhan pakan pabrikan yang selama ini menghabiskan hingga Rp10 juta per bulan diharapkan dapat ditekan secara bertahap.

Novri pun ingin kelompoknya terus bertahan dan berkembang.

“Harapan kami ke depannya untuk kelompok Mas Muda, jangan pernah menyerah dalam budidaya, terus maju sampai menjadi sukses,” tuturnya.

Kelompok Mas Muda juga berharap pendampingan TNKM tidak berhenti pada pelatihan awal, mereka ingin ada kegiatan lanjutan, terutama untuk mengembangkan maggot menjadi bahan baku pelet ikan.

“Supaya kegiatan ini ke depan ada kelanjutannya, yaitu pembuatan pelet dari bahan maggot,” harap Novri.

Dari sebuah kolam ikan di Desa Buduk Tumu, upaya menuju kemandirian itu perlahan dibangun, bukan hanya dengan memperbesar produksi ikan, tetapi juga dengan belajar menghasilkan sendiri salah satu kebutuhan terbesarnya.

Di wilayah perbatasan Krayan, maggot yang ukurannya kecil kini membawa harapan besar, mengurangi biaya produksi, memperkuat usaha budidaya ikan, dan perlahan mengurangi ketergantungan pada pakan dari luar wilayah. (*)

Previous Post

Polres Nunukan Gencarkan Patroli Karhutla

Next Post

Cegah Karhutla Sejak Dini, Samapta Polda Kaltara Gencarkan Patroli dan Edukasi Warga

Berita Lainnya

Kapasitas Listrik Nunukan Bertambah 3,2 MW, PLN Siapkan Daya untuk 2.000 Pelanggan Baru
Daerah

Kapasitas Listrik Nunukan Bertambah 3,2 MW, PLN Siapkan Daya untuk 2.000 Pelanggan Baru

07/09/2026
Cegah Karhutla Sejak Dini, Samapta Polda Kaltara Gencarkan Patroli dan Edukasi Warga
Daerah

Cegah Karhutla Sejak Dini, Samapta Polda Kaltara Gencarkan Patroli dan Edukasi Warga

07/09/2026
Polres Nunukan Gencarkan Patroli Karhutla
Daerah

Polres Nunukan Gencarkan Patroli Karhutla

06/09/2026
Polisi Bongkar Arena Sabung Ayam di Tengah Kebun Sawit
Daerah

Polisi Bongkar Arena Sabung Ayam di Tengah Kebun Sawit

06/09/2026
Peduli Korban Bencana NTT, LPADKT Nunukan Galang Dana Sambil Bagikan 150 Masker
Daerah

Peduli Korban Bencana NTT, LPADKT Nunukan Galang Dana Sambil Bagikan 150 Masker

05/09/2026
PLN Nunukan Siapkan Penambahan Mesin Pembangkit
Daerah

PLN Nunukan Siapkan Penambahan Mesin Pembangkit

05/09/2026
Next Post
Cegah Karhutla Sejak Dini, Samapta Polda Kaltara Gencarkan Patroli dan Edukasi Warga

Cegah Karhutla Sejak Dini, Samapta Polda Kaltara Gencarkan Patroli dan Edukasi Warga

Kapasitas Listrik Nunukan Bertambah 3,2 MW, PLN Siapkan Daya untuk 2.000 Pelanggan Baru

Kapasitas Listrik Nunukan Bertambah 3,2 MW, PLN Siapkan Daya untuk 2.000 Pelanggan Baru

Discussion about this post

Kaltara Grande News

Tentang Kami

  • Home
  • Iklan & Advetorial
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi & Manajemen
  • Standar Perlindungan Profesi Wartawan

Follow Us

Copyright © 2022, PT Media Grande Kaltara.

error: Content is protected !!
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
    • Kalimantan Utara
    • Tarakan
    • Bulungan
    • Nunukan
    • Malinau
    • Tana Tidung
    • Kalimantan Timur
    • Kalimantan Selatan
    • Kalimantan Barat
    • Kalimantan Tengah
  • Hukum & Kriminal
  • Politik
  • Ekonomi
  • Pariwisata
  • Pendidikan
  • Opini

Copyright © 2022, PT Media Grande Kaltara.