TARAKAN – Jarak, laut, dan keterbatasan akses perbankan tak boleh membuat masyarakat kepulauan kesulitan memperoleh uang rupiah layak edar. Bank Indonesia (BI) bersama TNI Angkatan Laut memilih menjemput bola dengan membawa langsung uang senilai Rp6 miliar ke lima pulau.
Melalui Ekspedisi Rupiah Berdaulat (ERB) 2026, KRI Ajak-653 diberangkatkan dari Markas Komando Daerah Maritim (Kodaeral) XIII Tarakan, Selasa (14/7/2026).
Kapal perang TNI AL tersebut akan membawa tim ekspedisi menyambangi Pulau Sebatik, Pulau Bunyu, Pulau Maratua, Teluk Sulaiman, dan Pulau Derawan.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kalimantan Selatan sekaligus Kepala Koordinator Wilayah BI Kalimantan, Haris Munandar, menegaskan kebutuhan terhadap rupiah berlangsung setiap hari. Karena itu, pelayanan kas perlu menjangkau masyarakat yang tinggal jauh dari pusat layanan perbankan.
“Kebutuhan rupiah bukan setahun sekali, tetapi setiap hari,” ujar Haris.
Menurutnya, Ekspedisi Rupiah Berdaulat telah dilaksanakan sejak 2012. Hingga kini, sekitar 150 perjalanan telah dilakukan ke berbagai wilayah Indonesia.
Namun, luasnya wilayah kepulauan menjadi tantangan besar. Dengan sekitar 1.000 pulau berpenghuni, pelayanan rupiah masih perlu terus diperluas.
“Sudah sekitar 150 kali perjalanan. Tentunya ini masih jauh dari cukup mengingat jumlah pulau berpenghuni di Indonesia sekitar 1.000 pulau,” katanya.
BI Temukan 80 Persen Uang Sudah Waktunya Ditukar
Ekspedisi kali ini membawa uang rupiah layak edar senilai Rp6 miliar dalam berbagai pecahan.
BI mencatat sekitar 80 persen uang yang beredar di sejumlah wilayah kepulauan sudah waktunya ditukar. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan layanan kas perlu dibawa langsung mendekati masyarakat.
“Sekitar 80 persen uang memang sudah waktunya ditukar. Tapi bukan berarti tidak layak edar,” jelas Haris.
Ia mengimbau masyarakat tidak menunggu kondisi uang benar-benar lusuh atau robek untuk melakukan penukaran.
Menurut Haris, masyarakat juga dapat memanfaatkan pelayanan tersebut untuk memperoleh uang pecahan kecil sesuai kebutuhan transaksi.
“Kalau masyarakat membutuhkan pecahan yang lebih kecil untuk ke pasar atau keperluan lainnya, bisa kami layani,” ujarnya.
BI berharap Rp6 miliar uang yang dibawa dalam ekspedisi tersebut dapat tersalurkan secara maksimal.
“Sepanjang persediaan masih tersedia, kami akan senang jika seluruh uang yang kami bawa dapat tersalurkan,” tambahnya.
Kenalkan Tujuh Unsur Pengaman Rupiah
Selain membuka pelayanan penukaran uang, tim ERB 2026 juga memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai ciri-ciri keaslian rupiah.
Masyarakat dikenalkan metode dilihat, diraba, dan diterawang untuk memastikan uang yang diterima merupakan rupiah asli.
Haris mengatakan sedikitnya terdapat tujuh unsur pengaman pada uang rupiah yang dapat dikenali masyarakat.
“Jadi masyarakat tidak perlu khawatir. Ada banyak ciri yang bisa dikenali untuk memastikan uang tersebut asli,” katanya.
Ekspedisi Rupiah Berdaulat menjadi salah satu cara BI dan TNI AL mendekatkan layanan negara kepada masyarakat kepulauan.
Dari Tarakan, Rp6 miliar rupiah kini berlayar menuju lima pulau, memastikan masyarakat di wilayah terdepan, terluar, dan terpencil tetap memiliki akses terhadap uang layak edar. (**)








Discussion about this post