NUNUKAN – Di beranda utara Indonesia yang berbatasan langsung dengan negara tetangga, Kabupaten Nunukan terus menunjukkan geliat sektor pariwisata yang perlahan tumbuh di tengah dinamika wilayah perbatasan.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, sebanyak 858 wisatawan mancanegara masuk melalui pintu keimigrasian Nunukan pada Februari 2026.
Meski mengalami penurunan dibandingkan Januari yang mencapai 995 kunjungan, arus wisatawan lintas negara masih tergolong aktif, terutama dari wilayah seperti Tawau.
Kepala BPS Kabupaten Nunukan, Dr. Iskandar Ahmaddien, menjelaskan bahwa data tersebut menunjukkan sektor pariwisata dan akomodasi di Nunukan tetap bergerak, meskipun masih membutuhkan penguatan agar memberikan dampak ekonomi yang lebih besar bagi daerah.
“Pada Februari 2026, jumlah kunjungan wisman ke Kabupaten Nunukan tercatat 858 kunjungan, di sisi lain, tingkat penghunian kamar hotel dan akomodasi lainnya mencapai 20,39 persen, dengan rata-rata lama menginap tamu sebesar 1,62 hari,” ujarnya, Kamis (02/04/2026).
Ia menambahkan bahwa rata-rata lama tinggal yang relatif singkat, yakni sekitar satu hingga dua hari, mengindikasikan bahwa sebagian besar kunjungan masih didominasi oleh perjalanan singkat.
Kunjungan tersebut umumnya berkaitan dengan aktivitas lintas batas, perjalanan kerja, maupun kegiatan ekonomi lainnya, sehingga Nunukan masih lebih banyak berperan sebagai daerah transit.
Meski demikian, kondisi ini justru menjadi peluang untuk mendorong Nunukan bertransformasi menjadi destinasi singgah yang lebih menarik.
Pemerintah daerah pun mulai mengambil langkah strategis untuk memperkuat sektor pariwisata dan layanan pendukungnya.

Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata Kabupaten Nunukan, H. Sura’i, S.Sos., M.A.P., menuturkan bahwa pihaknya terus melakukan berbagai persiapan, termasuk memastikan kesiapan hotel dan rumah makan dalam menyambut wisatawan.
“Kami sudah menyiapkan data dan dokumentasi, serta menugaskan tim untuk mengunjungi rumah makan dan hotel agar siap menyambut tamu, baik dari lokal maupun dari luar daerah, termasuk dari Malaysia,” katanya, Kamis (02/04/2026).
Upaya promosi juga dilakukan dengan memperkenalkan destinasi wisata alam yang dimiliki Nunukan kepada wisatawan mancanegara.
Beberapa di antaranya adalah Air Terjun Binusan dan kawasan Mangrove Sungai Parima yang menawarkan suasana alami dan pengalaman wisata yang masih autentik.
“Beberapa waktu lalu, kami mendampingi tamu dari Malaysia selama beberapa hari untuk berkunjung ke Air Terjun Binusan dan kawasan mangrove Sungai Parima, respons mereka sangat baik,” ungkapnya.
Menurut Sura’i, meningkatnya aktivitas kunjungan wisatawan mulai memberikan dampak positif terhadap perekonomian masyarakat.
Sektor perhotelan, kuliner, hingga usaha jasa lainnya ikut merasakan manfaat dari pergerakan wisatawan yang datang ke wilayah perbatasan ini.
Namun demikian, ia mengakui bahwa tantangan masih ada, terutama dalam meningkatkan lama tinggal wisatawan agar tidak hanya singgah dalam waktu singkat.
Untuk itu, pemerintah daerah kini lebih menekankan pada peningkatan kualitas pelayanan dibandingkan pembangunan fisik.
“Kami mengunjungi langsung hotel-hotel untuk memastikan kenyamanan tamu, mulai dari kondisi kamar hingga fasilitas seperti AC dan kipas angin, kami ingin pelaku usaha memahami bahwa tamu adalah prioritas dan menjadi wajah pelayanan Nunukan,” tegasnya.
Dengan segala potensi dan upaya yang terus dilakukan, Nunukan kini perlahan membangun identitas barunya, dari yang sebelumnya dikenal sebagai wilayah perlintasan, Nunukan mulai diposisikan sebagai gerbang perbatasan yang tidak hanya strategis, tetapi juga menawarkan pesona alam yang masih terjaga serta pengalaman singgah yang autentik bagi setiap wisatawan yang datang. (*)








Discussion about this post