NUNUKAN – Kabar baik bagi masyarakat Kabupaten Nunukan, pada Mei 2026, harga barang dan jasa secara umum tercatat mengalami penurunan tipis atau deflasi sebesar 0,03 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Meski demikian, secara tahunan laju inflasi di daerah perbatasan ini tetap terjaga pada level 2,03 persen, bahkan menjadi yang terendah di Kalimantan Utara.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Nunukan, Dr. Iskandar Ahmaddien, SST., S.E., S.H., M.M., mengatakan kondisi tersebut menunjukkan stabilitas harga di Nunukan masih cukup baik.
“Pada Mei 2026 terjadi deflasi month-to-month sebesar 0,03 persen, sementara secara year-on-year, Kabupaten Nunukan mengalami inflasi sebesar 2,03 persen dengan Indeks Harga Konsumen sebesar 111,1,” terang Iskandar, Selasa (2/6/2026).
Menurutnya, inflasi tahunan di Nunukan masih didorong oleh sejumlah kelompok pengeluaran masyarakat, terutama kelompok makanan, minuman dan tembakau.
Data BPS mencatat kelompok tersebut memberikan andil terbesar terhadap inflasi tahunan dengan kontribusi sebesar 0,62 persen.
Selain itu, kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran menyumbang 0,44 persen, disusul kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,43 persen.
“Kelompok makanan, minuman dan tembakau masih menjadi penyumbang utama inflasi tahunan, ini menunjukkan kebutuhan konsumsi masyarakat tetap menjadi faktor dominan dalam pembentukan inflasi di Kabupaten Nunukan,” ujarnya.
Sementara itu, kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga memberikan andil inflasi sebesar 0,35 persen, adapun kelompok transportasi menyumbang 0,11 persen dan kelompok kesehatan sebesar 0,05 persen.
Menariknya, inflasi tahunan Kabupaten Nunukan pada Mei 2026 tercatat menjadi yang terendah dibandingkan daerah lain di Provinsi Kalimantan Utara.
BPS mencatat inflasi di Tanjung Selor mencapai 3,97 persen, sedangkan Kota Tarakan berada di angka 3,08 persen, sementara Nunukan hanya 2,03 persen.
Kondisi ini dinilai menjadi sinyal positif bagi perekonomian daerah karena harga-harga relatif lebih terkendali dibandingkan wilayah lainnya.
“Inflasi yang terkendali sangat penting untuk menjaga daya beli Masyarakat, angka inflasi Nunukan yang lebih rendah dibandingkan daerah lain di Kalimantan Utara menunjukkan stabilitas harga yang cukup baik,” jelas Iskandar.
Berdasarkan catatan BPS, inflasi tahunan Nunukan sempat melonjak hingga 4,22 persen pada Februari 2026, namun setelah itu laju inflasi terus melandai dan kembali stabil.
Pada Maret 2026 inflasi turun menjadi 1,96 persen, kemudian 2,05 persen pada April, dan berada di angka 2,03 persen pada Mei 2026.
BPS berharap stabilitas harga dapat terus terjaga melalui sinergi pemerintah daerah, pelaku usaha, dan seluruh pemangku kepentingan, terutama dalam menjaga pasokan dan distribusi komoditas pangan yang menjadi kebutuhan utama masyarakat. (*)











Discussion about this post