NUNUKAN – Inflasi Kabupaten Nunukan pada Februari 2026 tercatat 0,25 persen secara bulanan, menurun dibandingkan Januari yang sempat menyentuh 0,81 persen.
Meski laju inflasi bulanan relatif terkendali, tekanan harga secara tahunan tetap terasa dengan inflasi year-on-year mencapai 4,22 persen dan inflasi tahun kalender atau year-to-date sebesar 1,06 persen.
Angka ini dirilis oleh Badan Pusat Statistik Kabupaten Nunukan dan menunjukkan bahwa meski terjadi fluktuasi harga bulanan, kestabilan harga secara keseluruhan masih terjaga.
Kepala BPS Kabupaten Nunukan, Iskandar Ahmaddien, mengatakan bahwa sejumlah komoditas menjadi pendorong utama inflasi tahunan.
“Inflasi year-on-year Februari 2026 tercatat 4,22 persen, sementara inflasi bulanan 0,25 persen dan inflasi tahun kalender 1,06 persen, kenaikan harga energi dan beberapa komoditas pangan menjadi faktor dominan,” ujarnya dalam merilis data resmi Indeks Harga Konsumen, Senin (02/03/2026).
Secara tahunan, tarif listrik menjadi penyumbang inflasi terbesar di Nunukan, diikuti emas perhiasan.
Komoditas perikanan seperti ikan tongkol atau ikan ambu-ambu serta ikan cakalang juga memberi kontribusi signifikan, sementara bahan bangunan berupa batu bata atau batu tela turut memengaruhi inflasi.
Pada sisi bulanan, cabai rawit menjadi komoditas dengan andil terbesar terhadap inflasi Februari, emas perhiasan kembali mencatat kenaikan harga, diikuti tomat, ikan cakalang, dan ketimun.
Di sisi lain, beberapa komoditas justru menahan laju inflasi, termasuk bayam, kangkung, wortel, sabun mandi, dan bawang merah.
“Fluktuasi harga komoditas segar seperti sayuran cukup cepat berubah, sehingga sangat memengaruhi inflasi jangka pendek,” tambah Iskandar.
Jika dibandingkan dengan capaian nasional, inflasi Nunukan masih lebih rendah, inflasi nasional tercatat 4,76 persen secara tahunan dan 0,68 persen secara bulanan, sedangkan inflasi gabungan Kalimantan Utara 4,75 persen y-on-y dan 0,47 persen m-to-m.
Kota Tarakan dan Tanjung Selor masing-masing mencatat inflasi tahunan 5 persen dengan inflasi bulanan 0,58 persen dan 0,56 persen.
Iskandar menegaskan bahwa data ini menjadi acuan bagi pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan pengendalian inflasi, terutama pada komoditas strategis yang berdampak langsung pada daya beli masyarakat.
“Kami akan terus memantau harga dan berkoordinasi dengan pihak terkait agar stabilitas harga tetap terjaga,” tutupnya. (*Rls)











Discussion about this post