NUNUKAN – Bagi sebagian anak di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia, pergi ke sekolah bukan sekadar perjalanan rutin, jarak yang jauh dan kondisi geografis membuat mereka harus menempuh perjalanan panjang demi bisa duduk di bangku sekolah dan mengikuti pelajaran.
Kisah itu turut dirasakan sejumlah siswa SD Negeri 5 Sebatik Tengah, Kecamatan Sebatik Tengah, pihak sekolah mengungkap, sebagian siswa merupakan anak dari pekerja migran Indonesia (PMI) yang bekerja di wilayah Malaysia dan tinggal bersama keluarga mereka di Indonesia.
Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) SD Negeri 5 Sebatik Tengah, Syamsuddin, mengatakan perhatian Polres Nunukan dan Kantor Imigrasi Kelas II TPI Nunukan terhadap anak-anak perbatasan menjadi hal yang sangat berarti bagi sekolah.
“Alhamdulillah kita dikunjungi, apalagi perhatian dan bantuannya terhadap sekolah dan anak-anak perbatasan, itu luar biasa,” ujar Syamsuddin, Rabu (30/9/2026).
Menurut Syamsuddin, cukup banyak siswa di sekolah tersebut yang orang tuanya bekerja sebagai pekerja migran di Malaysia, sebagian anak tinggal bersama nenek, tante maupun keluarga lainnya di Indonesia karena orang tua mereka bekerja di seberang perbatasan.
“Banyak sebenarnya anak TKI yang ada di SD 5 Sebatik Tengah, cuma mereka numpang di neneknya, dan orang tuanya rata-rata menjadi TKI,” katanya.
Ia mengakui, sekolah belum memiliki pendataan secara khusus mengenai jumlah siswa yang berasal dari keluarga pekerja migran, namun, dari total sekitar 139 siswa, terdapat puluhan anak yang diketahui memiliki orang tua bekerja di Malaysia.
“Kalau jumlah pastinya belum kami data, nanti akan kami data, karena bukan hanya anak-anak yang tinggal di Bergusung, masih banyak yang tinggal bersama nenek atau tantenya, yang tempat tinggal mereka lebih jauh lagi,” jelasnya.
Persoalan jarak menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi anak-anak tersebut, Syamsuddin menyebut, sebagian siswa harus berjalan cukup jauh untuk mencapai sekolah, kondisi itu bahkan membuat sejumlah anak berisiko putus sekolah.
“Banyak yang putus sekolah, terutama yang jauh di Malaysia, jaraknya jauh sekali,” ujarnya.
Ia kemudian menceritakan pengalaman seorang siswa yang sempat kelelahan dalam perjalanan menuju sekolah, karena tidak sanggup melanjutkan perjalanan, anak tersebut pernah beristirahat di pondok-pondok perkebunan kelapa sawit.
“Sempat mau berhenti kemarin karena capek. Dia tidur siang di pondok-pondok kelapa sawit, tidak mau turun sekolah. Kami telepon mamanya, tanya apa tadi anaknnya turus sekolah, dan mamanya bilang, ‘Anakku turun’. Akhirnya dia sampai di sekolah, kami tanya anaknnya bilang dia capek dan tidur di pondok,” tutur Syamsuddin.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi perhatian tersendiri bagi guru karena anak-anak harus menghadapi perjalanan panjang sebelum akhirnya mengikuti kegiatan belajar mengajar.
Untuk menjaga semangat para siswa, Syamsuddin juga kerap memberikan motivasi dengan menceritakan pengalaman hidupnya saat bersekolah.
“Saya ceritakan kehidupan saya untuk memotivasi mereka, waktu sekolah dulu saya juga berjalan sekitar tujuh kilometer. Kalau kita beri motivasi dari kehidupan kita sehari-hari, anak-anak bisa termotivasi,” katanya.
Ia menilai, perhatian kepada anak-anak perbatasan sebaiknya tidak berhenti pada persoalan dokumen identitas, dukungan terhadap kebutuhan pendidikan seperti buku, tas dan perlengkapan sekolah juga dinilai penting.
“Kalau saya, antusias terhadap anak-anak TKI itu bantuan mungkin bisa diberikan juga, seperti buku, tas dan sebagainya, banyak yang saya lihat memang membutuhkan,” ungkapnya.
Syamsuddin juga mengapresiasi perhatian Polres Nunukan yang selama ini turut memberikan bantuan kepada anak-anak yang tinggal di kawasan perbatasan dan berjalan kaki menuju sekolah.
Menurutnya, bantuan tersebut memiliki arti lebih dari sekadar perlengkapan sekolah karena menunjukkan bahwa perjuangan anak-anak perbatasan mendapatkan perhatian.
“Yang selalu kami perhatikan, dari polres juga memberikan perhatian kepada anak-anak yang berjalan kaki, dijemput diiberikan bantuan seperti buku dan tas,” katanya.
Ia berharap perhatian terhadap anak-anak di wilayah perbatasan dapat dilakukan secara berkelanjutan, termasuk melalui pendataan yang lebih lengkap terhadap anak-anak dari keluarga pekerja migran.
“Kalau kita hitung, anak TKI itu sebenarnya banyak. Bukan hanya anak-anak Bergusung yang langsung di perbatasan, ada juga yang tinggal bersama nenek atau tantenya, lebih jauh lagi ” ujarnya.
Bagi Syamsuddin, anak-anak tersebut membutuhkan lebih dari sekadar fasilitas, mereka juga membutuhkan dukungan dan motivasi agar tidak menyerah dengan kondisi yang mereka hadapi.
Sebab, setiap langkah yang mereka tempuh menuju sekolah merupakan bagian dari perjuangan untuk mendapatkan pendidikan, di tengah jarak dan kondisi perbatasan, semangat mereka untuk tetap belajar menjadi harapan bahwa keterbatasan tidak harus menghalangi anak-anak untuk mengejar cita-cita. (*)








Discussion about this post