NUNUKAN – Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara (Kaltimtara), Yan Rusmanto, meresmikan tiga fasilitas di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Nunukan, Rabu (14/10/2026).
Ketiga fasilitas tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat pelayanan pemasyarakatan, pembinaan kemandirian warga binaan, serta pemasaran produk hasil karya mereka.
Peresmian tersebut meliputi Galeri Lanuka, Pos Balai Pemasyarakatan (Bapas), dan Galeri UMKM Lapas Nunukan.
Kehadiran fasilitas ini diharapkan dapat mendukung pengembangan program pembinaan sekaligus memperluas pemanfaatan potensi yang dimiliki Lapas Nunukan.
Dalam kunjungannya, Yan Rusmanto juga meninjau perkembangan program ketahanan pangan dan berbagai kegiatan produktif yang dijalankan Lapas Nunukan.
Ia menilai, upaya yang dilakukan menunjukkan perkembangan positif, terutama dalam mendukung program nasional ketahanan pangan dan pembinaan kemandirian warga binaan.
“Lapas Nunukan ini menjadi salah satu satuan di lingkungan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan yang cukup terlihat progresnya dalam menyukseskan program ketahanan pangan,” ujar Yan, Rabu (14/10/2026).
Lapas Nunukan memiliki total kawasan seluas 10 hektare, dari luasan tersebut, 6,6 hektare secara khusus dikembangkan menjadi kawasan inti Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) Lanuka yang berlokasi di kawasan Bukit Aren, Kecamatan Nunukan Selatan.

Kawasan tersebut dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian hortikultura, peternakan, perkebunan kelapa sawit, serta pengembangan Agrowisata Bukit Tugu Mandau, pemanfaatan kawasan ini menjadi bagian dari pengembangan Lapas Nunukan sebagai lapas industri dan kawasan agrowisata berbasis SAE.
Selain kegiatan di sektor pertanian dan peternakan, pembinaan kemandirian juga diarahkan pada pengembangan produk kerajinan dan olahan pangan yang memiliki potensi pasar.
Salah satu fasilitas yang mendukung upaya tersebut ialah Galeri UMKM Lapas Nunukan, yang dikenal sebagai Galeri Lanuka dan berada di area Lapas Kelas IIB Nunukan.

Galeri ini menjadi wadah untuk memamerkan, mempromosikan, sekaligus memasarkan hasil karya warga binaan.
Berbagai produk tersedia, mulai dari batik, tas tangan, gantungan kunci, ikat rambut, aksesori dan hiasan dinding, hingga tempat panggangan berbahan besi.
Selain itu, terdapat pula set meja dan kursi berbahan bekas, paving block, amplang, kue bolu, ayam marinasi, ayam beku (frozen), serta aneka makanan ringan, minuman, biskuit, dan kerupuk.
Yan mengapresiasi langkah Lapas Nunukan yang tidak hanya memberikan pembinaan keterampilan, tetapi juga menyiapkan wadah pemasaran bagi produk yang dihasilkan warga binaan.
Menurutnya, keberadaan galeri dapat membantu memperkenalkan produk kepada masyarakat dan membuka peluang pengembangan usaha.
“Bukan hanya memamerkan, tetapi juga memfasilitasi penjualan dan mempromosikan produk-produk karya warga binaan,” katanya.
Ia juga menyoroti batik karya warga binaan dengan motif abstrak yang memiliki karakter berbeda pada setiap kain.
Menurutnya, keunikan tersebut menjadi potensi yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan daya tarik dan nilai jual produk.
Yan menegaskan, pengembangan kegiatan produktif di lingkungan pemasyarakatan tidak semata-mata mengejar keuntungan, tetapi juga mendorong kemampuan warga binaan agar dapat berkembang secara maksimal.
“Harapannya, kemampuan dan potensi yang ada di lapas itu bisa dikembangkan secara maksimal,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Yan menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam mendukung pelaksanaan tugas pemasyarakatan.
Keterlibatan pemerintah daerah, TNI, pelaku usaha, Dharma Wanita, dan media dinilai penting, baik untuk mendukung pembinaan maupun memperluas publikasi praktik baik yang telah dilakukan.
Melalui peresmian ketiga fasilitas tersebut, Lapas Nunukan diharapkan semakin optimal dalam memberikan pelayanan pemasyarakatan, mengembangkan keterampilan warga binaan, dan memperluas pemasaran produk hasil pembinaan.
Upaya ini sekaligus menjadi bagian dari penguatan pembinaan yang berorientasi pada kemandirian dan kesiapan warga binaan untuk kembali berintegrasi dengan masyarakat. (*)








Discussion about this post