JAKARTA – Fadli Zon membuka peluang kolaborasi strategis dengan Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) dalam penguatan diseminasi narasi kebudayaan dan konservasi aksara daerah. Hal itu disampaikan saat menerima audiensi Pengurus Pusat JMSI di Ruang Mataram, Kementerian Kebudayaan, Selasa (3/3/2026).
Pertemuan tersebut menjadi momentum dialog antara pemerintah dan insan media dalam merumuskan langkah konkret pemajuan kebudayaan nasional. Ketua Umum JMSI, Teguh Santosa, menyampaikan komitmen organisasinya untuk terlibat aktif dalam isu-isu kebudayaan, terutama pelestarian aksara daerah yang kini menghadapi tantangan di era digital.
Menanggapi hal tersebut, Fadli Zon menegaskan bahwa pemajuan kebudayaan merupakan amanat konstitusi yang membutuhkan partisipasi seluruh elemen bangsa, termasuk media.
“Sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 32 Ayat 1 UUD 1945, negara memajukan kebudayaan Indonesia di tengah peradaban dunia. Peran media sangat erat dalam upaya itu,” ujarnya.
Menurutnya, media memiliki kekuatan dalam membangun opini publik sekaligus memperluas jangkauan informasi kebudayaan. Karena itu, diseminasi narasi yang kuat, konsisten, dan berbasis data menjadi kebutuhan mendesak agar kebudayaan Indonesia semakin dikenal, baik di dalam negeri maupun di kancah global.
Dalam audiensi tersebut, Menteri Kebudayaan juga memaparkan program percepatan penetapan dan pelestarian cagar budaya serta Warisan Budaya Takbenda (WBTB). Dari total WBTB yang telah ditetapkan, sekitar 10–20 persen merupakan kuliner tradisional. Pemerintah juga tengah mengusulkan tempe sebagai Warisan Budaya Takbenda ke UNESCO.
Fadli Zon menekankan bahwa upaya pelestarian tidak cukup hanya melalui regulasi dan revitalisasi, tetapi juga memerlukan strategi komunikasi publik yang efektif.
“Yang kita perlukan adalah diseminasi narasi dan informasi. Revitalisasi sudah dilakukan, namun perlu dikemas dalam kampanye yang kuat agar memiliki daya jangkau luas,” katanya.
Selain itu, Kementerian Kebudayaan tengah mengumpulkan dan mendigitalisasi cerita rakyat dari berbagai daerah sebagai bagian dari penguatan ekosistem kebudayaan berbasis teknologi. Langkah ini diharapkan dapat menjaga keberlanjutan tradisi lisan sekaligus memperluas akses generasi muda terhadap warisan budaya.
Pertemuan tersebut turut dihadiri jajaran pejabat Kementerian Kebudayaan, antara lain Staf Ahli Menteri Bidang Ekonomi dan Industri Kebudayaan Anindita Kusuma Listya, Staf Khusus Menteri Bidang Media dan Komunikasi Publik Muhammad Asrian Mirza, Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Informasi Publik Ibnu Hamad, Direktur Pengembangan Budaya Digital Andi Syamsu Rijal, serta Kepala Balai Media Kebudayaan Abu Chanifah.
Kolaborasi antara Kementerian Kebudayaan dan JMSI diharapkan mampu memperkuat ekosistem narasi kebudayaan yang inklusif, berbasis riset, serta menjangkau masyarakat luas. Sinergi ini menjadi langkah strategis untuk memastikan kebudayaan Indonesia tetap lestari sekaligus berdaya saing di tingkat global. (*)











Discussion about this post