Minggu, Juli 5, 2026
Kaltara Grande News
Advertisement
  • Home
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
    • Kalimantan Utara
    • Tarakan
    • Bulungan
    • Nunukan
    • Malinau
    • Tana Tidung
    • Kalimantan Timur
    • Kalimantan Selatan
    • Kalimantan Barat
    • Kalimantan Tengah
  • Hukum & Kriminal
  • Politik
  • Ekonomi
  • Pariwisata
  • Pendidikan
  • Opini
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
    • Kalimantan Utara
    • Tarakan
    • Bulungan
    • Nunukan
    • Malinau
    • Tana Tidung
    • Kalimantan Timur
    • Kalimantan Selatan
    • Kalimantan Barat
    • Kalimantan Tengah
  • Hukum & Kriminal
  • Politik
  • Ekonomi
  • Pariwisata
  • Pendidikan
  • Opini
No Result
View All Result
Kaltara Grande News
No Result
View All Result
Home Nasional

Teguh Santosa: Indonesia Tidak Bisa Berharap pada Kebaikan Negara Lain

by Grande Media
17/05/2026
in Nasional
0
Teguh Santosa: Indonesia Tidak Bisa Berharap pada Kebaikan Negara Lain

Workshop geopolitik bersama content creator di Palembang menghadirkan Teguh Santosa sebagai narasumber utama.

Share on FacebookShare on Twitter

PALEMBANG – Direktur Geopolitik GREAT Institute, Dr. Teguh Santosa, memaparkan analisisnya tentang dinamika kepemimpinan nasional di hadapan puluhan content creator dalam workshop yang digelar di Palembang, Sumatera Selatan, Sabtu, 16 Mei 2026.

Dalam pemaparannya, ia menekankan bahwa setiap era memiliki tantangan yang unik. Karenanya kebijakan yang diambil pemimpin pada suatu era tidak bisa disamaratakan dengan pemimpin pada era yang lain.

“Setiap masa memiliki tantangan yang berbeda. Pemimpin pada setiap masa itu pun mengambil kebijakan yang berbeda yang intinya adalah agar Indonesia bisa tetap survived di tengah pergolakan dunia,” ujar Teguh membuka sesi.

Ia membandingkan empat sosok pemimpin Indonesia pada masa yang berbeda, Soekarno, Soeharto, B.J. Habibie, dan Prabowo Subianto. Menurutnya, masing-masing dihadapkan pada persoalan global dan domestik dengan ciri serta kekhasan tersendiri yang membentuk gaya kebijakan mereka.

Di era Soekarno, tantangannya adalah menjaga kemerdekaan politik di tengah perang dingin dan dekolonisasi. Soeharto menghadapi tekanan stabilitas ekonomi dan integrasi nasional pasca 1965. Habibie harus menyelamatkan ekonomi di tengah krisis moneter dan transisi demokrasi.

“Masuk ke era Prabowo, tantangannya berubah lagi. Dalam beberapa bulan pertama 2026 saja kita sudah menyaksikan runtuhnya sistem internasional oleh pertikaian yang melibatkan superpower,” kata Teguh yang juga Ketua Umum Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI).

Ia menjelaskan, runtuhnya tatanan multilateral yang sebelumnya dianggap mapan membuat Indonesia tidak bisa lagi bergantung pada jaminan keamanan dan ekonomi dari luar. Situasi ini memaksa kebijakan luar negeri dan dalam negeri diarahkan pada konsolidasi internal.

Karena itu, menurut Teguh, kebijakan Prabowo diarahkan pada upaya memperkuat ketahanan nasional di berbagai bidang, ekonomi, politik, teknologi, dan sebagainya. Fokusnya bukan ekspansi, melainkan penguatan fondasi.

Teguh menyebut pendekatan ini sebagai prinsip inclusive security. “Indonesia tidak bisa mengandalkan keamanannya pada pihak lain, baik negara tetangga maupun sistem internasional itu sendiri. Keamanan inklusif artinya kita membangun kemampuan bertahan dari dalam, kita bertanggung jawab pada keamanan kita,” tegasnya.

Dalam kerangka itu, program-program seperti makan bergizi gratis, koperasi merah putih, sekolah rakyat, dan hilirisasi industri diletakkan sebagai langkah strategis. “Ini bukan sekadar program sosial. Ini kebutuhan memperkuat fondasi dan kuda-kuda bangsa agar tidak goyah ketika badai datang,” jelasnya.

Ia membandingkan kebijakan tersebut dengan pengalaman China dalam beberapa dekade terakhir. Menurutnya, di awal era 2000an Beijing berhasil melakukan industrialisasi dan hilirisasi secara masif untuk menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar dan mengurangi ketergantungan pada rantai pasok asing.

“Prabowo pun melihat Indonesia harus melakukan hal itu. Tanpa hilirisasi, kita akan terus jadi pengekspor bahan mentah dan pengimpor barang jadi. Posisi itu membuat kita rentan secara struktural,” ujar Teguh.

Untuk memperkuat analisisnya, ia mengutip pandangan pemikir realisme politik. Ia merujuk pada Hans Morgenthau yang menyatakan bahwa politik internasional adalah perjuangan kekuasaan, dan negara yang tidak mampu menjaga kekuatannya sendiri akan tersingkir.

“Morgenthau mengingatkan bahwa moralitas universal tidak bisa menggantikan kepentingan nasional. Negara harus mengurus dirinya sendiri terlebih dulu,” masih kata Teguh.

Ia juga merujuk pada Kenneth Waltz, bapak realisme struktural, yang menekankan bahwa struktur sistem internasional anarkis memaksa negara untuk melakukan self-help. “Waltz bilang, di sistem tanpa otoritas pusat, negara tidak bisa berharap pada kebaikan negara lain. Yang bisa diandalkan hanya kemampuan sendiri,” ujarnya.

Teguh menilai kebijakan ketahanan nasional era Prabowo sejalan dengan logika itu. Ketika sistem internasional tidak lagi mampu menyediakan kepastian, maka jawaban rasional adalah memperkuat kapasitas domestik di sektor pangan, energi, teknologi, dan pertahanan.

Menutup paparannya, ia mengajak para content creator untuk memahami konteks geopolitik di balik kebijakan publik.

“Narasi yang kalian bangun harus berbasis pemahaman bahwa Indonesia sedang menata ulang posisinya. Bukan sekadar mengikuti arus, tapi menciptakan arus sendiri,” tutupnya. [jmsi]

Tags: jaringan media siber indonesiajmsikaltara grandekonten kreatorteguh santosa
Previous Post

Ditangkap di Pelabuhan Tanjung Perak, Terduga Pelaku Penyekapan Mahasiswi Asal Kaltara Akhirnya Tumbang Ditembak Polisi

Next Post

Syamsuddin Arfah Gandeng Disnaker dan BPJS dalam Reses Bersama Pekerja PT Intraca

Berita Lainnya

Prabowo Siap Wujudkan Aspirasi Kampus, Riset dan Beasiswa Doktor Jadi Perhatian
Nasional

Prabowo Siap Wujudkan Aspirasi Kampus, Riset dan Beasiswa Doktor Jadi Perhatian

28/06/2026
Bank Raya dan TDA Hadirkan GEN TDA Raya, Dorong UMKM Naik Kelas di Era Digital
Kalimantan Utara

Bank Raya dan TDA Hadirkan GEN TDA Raya, Dorong UMKM Naik Kelas di Era Digital

24/06/2026
DPR: Kerja Sama BI dengan China Perkuat Kedaulatan Rupiah
Nasional

DPR: Kerja Sama BI dengan China Perkuat Kedaulatan Rupiah

15/06/2026
BI Rate Naik ke 5,50 Persen, Stabilitas Rupiah Jadi Prioritas Utama
Ekonomi

BI Rate Naik ke 5,50 Persen, Stabilitas Rupiah Jadi Prioritas Utama

09/06/2026
Gempa M 7,7 di Sulut Picu Kepanikan, Aksi Warga Keluar Rumah dengan Tubuh Bersabun Viral
Nasional

Gempa M 7,7 di Sulut Picu Kepanikan, Aksi Warga Keluar Rumah dengan Tubuh Bersabun Viral

09/06/2026
Jerit Minta Tolong Berakhir Duka, Wisatawan Apparalang Ditemukan Meninggal Setelah Disapu Ombak
Nasional

Jerit Minta Tolong Berakhir Duka, Wisatawan Apparalang Ditemukan Meninggal Setelah Disapu Ombak

08/06/2026
Next Post
Syamsuddin Arfah Gandeng Disnaker dan BPJS dalam Reses Bersama Pekerja PT Intraca

Syamsuddin Arfah Gandeng Disnaker dan BPJS dalam Reses Bersama Pekerja PT Intraca

Supa’ad Hadianto Tekankan Transparansi dan Edukasi Publik dalam Reses di Tarakan Barat

Supa’ad Hadianto Tekankan Transparansi dan Edukasi Publik dalam Reses di Tarakan Barat

Pelantikan IPIM Tarakan Jadi Momentum Pererat Ukhuwah dan Kebersamaan Umat

Pelantikan IPIM Tarakan Jadi Momentum Pererat Ukhuwah dan Kebersamaan Umat

Discussion about this post

Kaltara Grande News

Tentang Kami

  • Home
  • Iklan & Advetorial
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi & Manajemen
  • Standar Perlindungan Profesi Wartawan

Follow Us

Copyright © 2022, PT Media Grande Kaltara.

error: Content is protected !!
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
    • Kalimantan Utara
    • Tarakan
    • Bulungan
    • Nunukan
    • Malinau
    • Tana Tidung
    • Kalimantan Timur
    • Kalimantan Selatan
    • Kalimantan Barat
    • Kalimantan Tengah
  • Hukum & Kriminal
  • Politik
  • Ekonomi
  • Pariwisata
  • Pendidikan
  • Opini

Copyright © 2022, PT Media Grande Kaltara.