NUNUKAN – Kreativitas Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) di Lapas Nunukan terus berkembang melalui program pembinaan kemandirian yang berfokus pada pelestarian budaya dan peningkatan keterampilan.
Salah satu hasil pembinaan yang kini menjadi perhatian adalah lahirnya motif batik khas Nunukan bernama “LaNuka”, karya asli warga binaan yang memadukan unsur budaya lokal dengan identitas khas Lapas Nunukan.
Program membatik tersebut menjadi bagian dari kegiatan kerja yang rutin dikembangkan pihak lapas guna membekali warga binaan dengan keterampilan produktif selama menjalani masa pembinaan.
Beragam motif berhasil diciptakan, termasuk pengembangan motif khas Nunukan “Lulantatibu” yang dikolaborasikan dengan ciri khas visual Lapas Nunukan.

Kepala Lapas Nunukan, Donny Setiawan, mengatakan pengembangan motif batik tersebut juga dilakukan dengan menelusuri sejarah terbentuknya Kabupaten Nunukan serta unsur budaya lokal yang hidup di tengah masyarakat.
Menurutnya, proses penciptaan motif dilakukan dengan menggali identitas suku dan adat asli Kalimantan yang ada di Nunukan agar menghasilkan corak batik yang memiliki nilai budaya dan karakter daerah.
“Kami ingin menghadirkan motif batik khas Nunukan yang benar-benar memiliki identitas daerah sekaligus menjadi kebanggaan warga binaan,” ujar Donny, Rabu (13/5).
Ia mengaku bangga karena karya batik hasil tangan warga binaan Lapas Nunukan telah mendapat apresiasi hingga digunakan oleh jajaran pimpinan tinggi Direktorat Jenderal Pemasyarakatan.
“Ini menjadi bukti bahwa karya warga binaan memiliki kualitas dan mampu bersaing,” katanya.

Donny menambahkan, pihaknya berencana mematenkan motif batik khas produksi Lapas Nunukan sebagai identitas budaya sekaligus produk unggulan pembinaan di lingkungan pemasyarakatan.
Selain sebagai sarana pembinaan keterampilan, kegiatan membatik juga diharapkan dapat mengubah pandangan masyarakat terhadap warga binaan melalui karya kreatif yang bernilai ekonomi dan budaya.
“Kegiatan ini bukan sekadar pelatihan, tetapi menjadi bekal life skill agar warga binaan memiliki kemampuan saat kembali ke masyarakat nanti,” jelasnya.
Ia menilai program tersebut juga memiliki nilai penting dalam menjaga kelestarian budaya daerah di tengah perkembangan zaman yang terus berubah.
Melalui pembinaan kreatif seperti membatik, Lapas Nunukan berharap warga binaan dapat lebih produktif, mandiri, dan memiliki peluang usaha setelah menyelesaikan masa pidana.(*rls)








Discussion about this post