NUNUKAN – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Nunukan merekomendasikan penetapan Status Siaga Darurat Bencana Hidrometeorologi di Kecamatan Nunukan dan Kecamatan Nunukan Selatan menyusul tingginya potensi hujan dalam beberapa hari ke depan berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Rekomendasi tersebut disampaikan setelah Tim Kaji Cepat BPBD menyelesaikan asesmen dampak banjir dan tanah longsor yang terjadi pada Senin (3/8/2026).
Hasil kajian menunjukkan bahwa intensitas hujan yang tinggi sejak dini hari telah mengakibatkan banjir di sejumlah kawasan permukiman serta memicu tanah longsor di beberapa titik.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Nunukan, H. Asmar, SE.MAP., mengatakan hasil analisis BMKG menunjukkan potensi hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi masih berpeluang terjadi di wilayah Pulau Nunukan dalam beberapa hari mendatang.
Kondisi tersebut perlu diantisipasi secara serius untuk meminimalkan risiko bencana susulan.
“Melihat kondisi cuaca yang masih berpotensi hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi, kami merekomendasikan penetapan Status Siaga Darurat Bencana Hidrometeorologi di Kecamatan Nunukan dan Kecamatan Nunukan Selatan. Langkah ini penting agar seluruh unsur penanggulangan bencana dapat bergerak lebih cepat dalam upaya mitigasi maupun penanganan apabila terjadi bencana susulan,” ujar Asmar, Senin (4/8/2026).
Berdasarkan hasil kaji cepat BPBD, hujan yang mengguyur wilayah Nunukan sejak pukul 03.50 hingga 06.22 WITA menyebabkan banjir dengan tinggi muka air mencapai 0,6 hingga 1 meter dari badan jalan.
Selain itu, tanah longsor juga terjadi di dua titik kawasan Sei Fatimah, tepatnya di lokasi eks Tempat Pembuangan Sampah dan jalan masuk menuju SMK.
Dampak bencana tercatat cukup signifikan, sebanyak 317 unit rumah terdampak banjir, sementara satu rumah mengalami rusak berat akibat longsor dan tiga rumah lainnya berada dalam ancaman pergerakan tanah.
Kerusakan juga terjadi pada sejumlah fasilitas umum, di antaranya jembatan di Jalan Fatahillah, jembatan di Jalan Lumba-Lumba, dinding penahan tanah di Siring Sungai Bolong, serta badan Jalan Sei Fatimah. Di sektor pertanian, sekitar 60 hektare lahan sawah yang baru ditanami turut terdampak banjir.
Asmar menjelaskan, sejak kejadian berlangsung BPBD bersama Tim Reaksi Cepat (TRC), TNI, Polri, perangkat daerah terkait, relawan, dan masyarakat telah melakukan berbagai langkah penanganan darurat, mulai dari membantu evakuasi warga, menyedot genangan air, membersihkan material lumpur, hingga mendata kerusakan rumah dan fasilitas umum.
Menurutnya, rekomendasi penetapan status siaga darurat juga bertujuan mempercepat koordinasi lintas sektor, pengerahan personel, serta penyediaan sumber daya apabila kondisi cuaca kembali memburuk.
“Selain itu, BPBD merekomendasikan percepatan perbaikan infrastruktur, khususnya dinding penahan tanah di lokasi rawan longsor, untuk mengurangi risiko terjadinya longsor susulan yang dapat membahayakan keselamatan Masyarakat,” tuturnya.
Pemerintah Kabupaten Nunukan mengimbau masyarakat agar tetap meningkatkan kewaspadaan, terutama warga yang tinggal di bantaran sungai, daerah rendah, dan kawasan perbukitan.
Masyarakat diminta terus memantau informasi cuaca resmi dari BMKG dan BPBD serta segera melaporkan apabila terjadi kondisi darurat agar penanganan dapat dilakukan secepat mungkin. (*)











Discussion about this post