NUNUKAN – Perekonomian Kabupaten Nunukan terus bergerak positif, Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Nunukan mencatat ekonomi daerah ini tumbuh 3,95 persen pada Triwulan II 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya atau secara year-on-year (y-on-y).
Pertumbuhan juga terlihat secara triwulanan, dibandingkan Triwulan I 2026, ekonomi Nunukan pada Triwulan II tumbuh 1,66 persen secara quarter-to-quarter (q-to-q).
Kepala BPS Kabupaten Nunukan Iskandar Ahmaddien, SST., S.E., S.H., M.M., CRP, mengatakan pertumbuhan tersebut menunjukkan aktivitas ekonomi di Nunukan masih berlangsung positif, baik dari sisi produksi, konsumsi maupun investasi.
“Perekonomian Kabupaten Nunukan pada Triwulan II 2026 tumbuh sebesar 3,95 persen secara year-on-year. Secara triwulanan juga tumbuh 1,66 persen. Ini menunjukkan aktivitas ekonomi di Nunukan masih bergerak positif,” ujar Iskandar, Kamis (10/09/2026).
Pada periode tersebut, nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Nunukan atas dasar harga berlaku mencapai Rp11,59 triliun, sementara PDRB atas dasar harga konstan 2010 tercatat sebesar Rp4,95 triliun.
Menariknya, di tengah pertumbuhan tersebut, struktur ekonomi Nunukan masih sangat bergantung pada sektor berbasis sumber daya alam, pertambangan dan Penggalian menyumbang 47,26 persen terhadap total PDRB Nunukan.
Artinya, hampir separuh aktivitas ekonomi daerah masih ditopang sektor pertambangan dan penggalian.
Sektor terbesar kedua adalah Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan yang memberikan kontribusi sebesar 21,04 persen, jika digabungkan, kedua sektor tersebut menyumbang lebih dari dua pertiga perekonomian Nunukan.
“Pertambangan dan Penggalian masih menjadi lapangan usaha dengan kontribusi terbesar, yaitu 47,26 persen, kemudian Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan sebesar 21,04 persen. Ini menggambarkan bahwa struktur ekonomi Nunukan masih memiliki basis sumber daya alam yang kuat,” jelas Iskandar.
Selain kedua sektor tersebut, Konstruksi, Industri Pengolahan, serta Perdagangan Besar dan Eceran juga menjadi bagian penting dalam struktur ekonomi daerah.
Secara keseluruhan, lima lapangan usaha terbesar tersebut memberikan kontribusi 90,36 persen terhadap PDRB Kabupaten Nunukan.
Namun, pertumbuhan ekonomi Nunukan pada Triwulan II 2026 tidak hanya berasal dari sektor-sektor dengan kontribusi terbesar, sejumlah lapangan usaha justru mencatat pertumbuhan cukup tinggi.
Jasa Perusahaan menjadi sektor dengan pertumbuhan tertinggi, mencapai 24,78 persen, kemudian Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum tumbuh 21,17 persen, sedangkan Real Estat tumbuh 20,35 persen.
“Pertumbuhan tertinggi terjadi pada Jasa Perusahaan sebesar 24,78 persen, kemudian Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum sebesar 21,17 persen serta Real Estat sebesar 20,35 persen, ini menunjukkan bahwa aktivitas pada sektor jasa dan kegiatan ekonomi lainnya juga mengalami perkembangan,” kata Iskandar.
Dari sisi pengeluaran, pergerakan ekonomi Nunukan juga didukung oleh konsumsi pemerintah, investasi dan konsumsi rumah tangga.
Pengeluaran Konsumsi Pemerintah mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 18,11 persen. Sementara Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh 5,64 persen dan Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga tumbuh 4,82 persen.
Menurut Iskandar, kondisi tersebut menunjukkan adanya aktivitas ekonomi yang berasal dari belanja pemerintah, pembangunan dan investasi, serta konsumsi masyarakat.
“Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan terbesar berasal dari Pengeluaran Konsumsi Pemerintah sebesar 18,11 persen. PMTB tumbuh 5,64 persen dan konsumsi rumah tangga 4,82 persen, ini mencerminkan aktivitas pembangunan, investasi dan konsumsi masyarakat yang tetap berjalan,” ungkapnya.
Jika dibandingkan dengan kondisi regional, pertumbuhan ekonomi Nunukan masih berada di bawah Kalimantan Utara, ekonomi Kaltara pada Triwulan II 2026 tumbuh 4,96 persen secara y-on-y, sedangkan Nunukan berada pada angka 3,95 persen.
Meski demikian, Nunukan tetap memiliki peran besar dalam perekonomian provinsi. Kontribusi PDRB Nunukan terhadap total perekonomian Kalimantan Utara mencapai 27,05 persen.
Angka tersebut menunjukkan bahwa meskipun laju pertumbuhan Nunukan belum melampaui pertumbuhan provinsi, aktivitas ekonomi Nunukan tetap menjadi salah satu penopang penting perekonomian Kalimantan Utara.
Dalam perbandingan pertumbuhan kabupaten/kota pada Triwulan II 2026, laju pertumbuhan Nunukan berada setelah Kabupaten Bulungan dan Kota Tarakan.
Bagi Nunukan, pertumbuhan 3,95 persen sekaligus memperlihatkan tantangan pembangunan ekonomi ke depan.
Kuatnya sektor pertambangan menjadi modal penting bagi perekonomian daerah, namun dominasi tersebut juga menunjukkan perlunya penguatan sektor-sektor produktif lainnya agar struktur ekonomi semakin beragam.
Pengembangan industri pengolahan, pertanian, perdagangan, jasa, investasi dan berbagai kegiatan ekonomi produktif lainnya menjadi bagian penting untuk menjaga pertumbuhan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap sektor tertentu.
“Ke depan, penguatan sektor produktif, peningkatan investasi serta optimalisasi potensi unggulan daerah menjadi penting untuk menjaga keberlanjutan pertumbuhan ekonomi Nunukan,” tegas Iskandar.
BPS Kabupaten Nunukan terus menyediakan data ekonomi sebagai salah satu pijakan dalam melihat perkembangan daerah.
Data pertumbuhan dan struktur PDRB diharapkan dapat membantu pemerintah daerah menyusun kebijakan pembangunan yang lebih tepat sasaran sekaligus mendorong penguatan berbagai sektor ekonomi yang memiliki potensi untuk berkembang.(*)









Discussion about this post