MALINAU – Permainan tradisional Sumingkawot didorong untuk tidak sekadar menjadi bagian dari cerita masa lalu, tetapi terus hidup dan dikenal oleh generasi muda Dayak Tahol.
Pesan itu disampaikan Plh. Sekretaris Daerah sekaligus Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesra Kabupaten Malinau, Drs. H. Kamran Daik, M.Si., saat membuka Festival Sumingkawot Tahun 2026 di Balai Adat Desa Salap, Kecamatan Malinau Utara, Jumat (18/9/2026) sore.
Mengusung tema “Sumingkawot – Meloncat Menjaga Budaya”, festival tersebut dirangkai dengan kegiatan dokumentasi dan lomba budaya sebagai upaya memperkenalkan permainan tradisional masyarakat Dayak Tahol kepada generasi penerus.
Kamran mengapresiasi para pemuda Dayak Tahol, panitia, tokoh adat, pemerintah desa serta seluruh pihak yang telah ikut menyukseskan festival tersebut.
Menurutnya, keberadaan Sumingkawot memiliki nilai penting dalam menjaga identitas budaya masyarakat Dayak Tahol. Karena itu, pelestariannya membutuhkan keterlibatan generasi muda agar tradisi tersebut tidak kehilangan penerus.
“Budaya Sumingkawot ini tidak cukup hanya kita simpan dalam cerita atau dokumentasi. Budaya harus dihidupkan, diperkenalkan dan diwariskan kepada generasi muda sehingga dapat terus dikembangkan dan menjadi agenda tahunan,” ujar Kamran.
Ia berharap Festival Sumingkawot dapat terus dikembangkan dengan menghadirkan lebih banyak unsur budaya Dayak Tahol. Tidak hanya permainan tradisional, tetapi juga kesenian, bahasa, pakaian adat, kerajinan, kuliner, cerita rakyat hingga pengetahuan tradisional.
Kamran menilai pelestarian budaya bukan hanya menjadi tugas pemerintah, lembaga adat maupun para sesepuh. Masyarakat, khususnya generasi muda, juga memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan warisan budaya.
“Pelestarian budaya merupakan tanggung jawab bersama. Yang paling penting adalah bagaimana pengetahuan dan nilai budaya dapat terus diteruskan kepada generasi berikutnya,” pungkasnya.











Discussion about this post