BUNYU – Hasil panen hidroponik di Pulau Bunyu, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, mulai dikembangkan menjadi produk olahan bernilai tambah. Langkah ini menjadi bagian dari upaya PT Pertamina EP (PEP) Bunyu Field dalam mendorong kemandirian ekonomi masyarakat di sekitar wilayah operasinya.
Melalui program Pengembangan dan Pelibatan Masyarakat (PPM), PEP Bunyu Field menggelar Pelatihan Manajemen Usaha dan Pengolahan Produk Turunan Tanaman Hidroponik bagi KWT Amanah, KWT Kebun Sayur, dan Kelompok Squadap.
Kegiatan yang berlangsung 15 Agustus 2026 di Rumah Produksi UMKM, Jalan Dewa Ruci, Desa Bunyu Selatan, Kecamatan Bunyu, tersebut diikuti 22 peserta.
Pelatihan tidak hanya berfokus pada keterampilan produksi, tetapi juga membekali peserta dengan pengetahuan dalam mengelola usaha. Materinya mencakup pencatatan keuangan, penghitungan Harga Pokok Produksi (HPP), pemasaran, hingga praktik pengolahan hasil hidroponik.
Untuk memberikan pengalaman praktis, PEP Bunyu Field menggandeng Rismiyati, pelaku UMKM Yumna Food dari Tanjung Selor, sebagai pemateri sekaligus instruktur.
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian dalam pelatihan adalah kemampuan kelompok dalam menentukan harga jual. Sebelum mengikuti pelatihan, hampir 60 persen peserta mengaku belum pernah menghitung HPP dan masih menggunakan harga pasar sebagai patokan.
Peserta kemudian diajak memahami bahwa penentuan harga jual tidak cukup hanya melihat harga pasar. Seluruh biaya produksi perlu diperhitungkan, termasuk bahan baku dan tenaga anggota kelompok.
Pemahaman tersebut diharapkan membuat kelompok lebih mampu menghitung keuntungan dan mengambil keputusan usaha berdasarkan kondisi produksi mereka sendiri.
Inovasi juga diperkenalkan melalui praktik pengolahan hasil hidroponik. Peserta belajar membuat dodol melon, keripik kulit semangka, serta mi kering berbahan sawi, wortel, dan buah naga.
Bagi peserta, praktik tersebut memberikan perspektif baru. Hasil hidroponik yang sebelumnya lebih banyak dipasarkan dalam bentuk segar kini dapat dikembangkan menjadi produk dengan masa konsumsi lebih panjang.
Sekitar 91 persen peserta mengaku memperoleh pengalaman baru dari proses pembuatan produk turunan tersebut.
Ketua KWT Amanah, Munsi, mengatakan pelatihan membuat anggota kelompok memiliki lebih banyak pilihan dalam mengembangkan hasil pertanian mereka.
“Kami jadi tahu bahwa hasil hidroponik tidak hanya bisa dijual dalam bentuk sayuran atau buah segar, tetapi dapat diolah menjadi berbagai produk turunan. Kami juga belajar menghitung HPP, mencatat keuangan, dan memasarkan produk. Ini membuat kami lebih percaya diri untuk mengembangkan usaha,” ujar Munsi.
Ia berharap keterampilan tersebut dapat diterapkan secara konsisten sehingga kelompok mampu melahirkan produk baru dari hasil hidroponik yang mereka kelola.
“Semoga setelah pelatihan ini kami bisa terus berinovasi dan mengembangkan berbagai produk dari hasil hidroponik kelompok kami,” katanya.
Kasi Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Kecamatan Bunyu, Adriani, menilai pengembangan produk olahan dapat menjadi langkah untuk mengoptimalkan potensi lokal.
Ia berharap pelatihan tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat, tetapi dilanjutkan melalui penerapan ilmu dan keterampilan dalam kegiatan usaha kelompok.
“Kami berharap ibu-ibu dari KWT Amanah, KWT Kebun Sayur, dan Kelompok Squadap tidak hanya mengikuti pelatihan, tetapi juga dapat menerapkan ilmu dan keterampilan yang telah diberikan oleh pemateri dalam mengembangkan usaha kelompok,” ujar Adriani.
Sementara itu, Head Communication Relations & CID Zona 10, Elis Fauziyah, mengatakan PPM merupakan bentuk komitmen perusahaan dalam menjalankan tanggung jawab sosial dan lingkungan sekaligus mendorong masyarakat agar semakin mandiri.
Menurutnya, pengembangan masyarakat perlu diarahkan pada peningkatan pengetahuan dan keterampilan sehingga potensi lokal dapat dikelola secara berkelanjutan.
“Pengembangan potensi lokal seperti pertanian hidroponik perlu dilakukan secara berkelanjutan agar manfaat program tidak berhenti pada pemberian bantuan oleh perusahaan, namun masyarakat sendiri memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk mengembangkan potensi tersebut secara mandiri dan berkelanjutan,” tutur Elis.
Elis mengatakan hidroponik merupakan salah satu potensi Pulau Bunyu yang masih dapat dikembangkan, termasuk melalui diversifikasi produk.
Dengan kemampuan mengolah hasil panen, masyarakat memiliki peluang untuk menciptakan produk baru yang tidak hanya memperpanjang masa konsumsi, tetapi juga membuka pasar dan sumber pendapatan tambahan.
“Kami berharap pengetahuan yang diperoleh dapat diterapkan dan dikembangkan oleh kelompok, sehingga mampu membuka peluang usaha baru bagi UMKM dan masyarakat yang lebih luas,” imbuhnya.
Pelatihan tersebut merupakan kolaborasi PEP Bunyu Field bersama KWT Amanah, KWT Kebun Sayur, dan Kelompok Squadap, dengan dukungan Pemerintah Kecamatan Bunyu, Pemerintah Desa Bunyu Barat, dan Pemerintah Desa Bunyu Selatan.
Melalui program ini, pengembangan hidroponik di Bunyu diarahkan tidak berhenti pada menghasilkan sayuran dan buah segar. Lebih jauh, hasil panen diharapkan dapat menjadi bahan baku berbagai produk olahan yang membuka ruang bagi tumbuhnya UMKM dan memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat.











Discussion about this post