TANJUNG SELOR – Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara memperketat pemantauan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) setelah 14 titik panas terdeteksi di Kabupaten Bulungan.
Data pemantauan satelit NASA-NOAA20 dan NASA-SNPP per 5 September 2026 menunjukkan 14 hotspot dengan tingkat kepercayaan sedang (medium) di sejumlah wilayah Bulungan.
Tujuh titik terdeteksi di Kecamatan Tanjung Selor, tepatnya Desa Jelarai Selor. Tiga titik lainnya berada di Desa Tanjung Buka, Kecamatan Tanjung Palas Tengah.
Sementara empat titik berada di Kecamatan Tanjung Palas Timur, masing-masing dua titik di Desa Binai, satu titik di Desa Sajau Hilir dan satu titik di Desa Mangkupadi.
Kemunculan hotspot tersebut menjadi perhatian Dinas Kehutanan (Dishut) Kaltara. Kepala Dishut Kaltara, Nurlaila, S.Hut., M.Si., langsung menginstruksikan tim pengawas Unit Pelaksana Teknis (UPT) melakukan pengecekan lapangan.
Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan kondisi sebenarnya di titik yang terdeteksi satelit sekaligus mencegah potensi kebakaran berkembang lebih luas.
“Kita tidak boleh lengah. Memasuki September, kesiapsiagaan personel patroli dan tim respons cepat terus ditingkatkan,” kata Nurlaila.
Meski demikian, secara kumulatif Kaltara masih mencatat luas indikasi karhutla terendah di Pulau Kalimantan hingga Juli 2026.
Berdasarkan data Opsroom Sipongi yang dihimpun Dishut Kaltara, luas indikasi kebakaran di Kaltara mencapai 400,62 hektare atau sekitar 0,70 persen dari total karhutla regional Kalimantan.
Sebagai pembanding, Kalimantan Barat mencatat 38.310,86 hektare, Kalimantan Selatan 8.019,63 hektare, Kalimantan Tengah 7.634,46 hektare, dan Kalimantan Timur 2.715,76 hektare.
Di Kaltara sendiri, luasan indikasi kebakaran meningkat secara kumulatif dari 41,61 hektare pada Januari menjadi 400,62 hektare pada Juli.
Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa capaian rendah secara regional tidak berarti risiko karhutla dapat diabaikan. Terlebih, memasuki periode rawan kebakaran, kecepatan mendeteksi dan menangani indikasi titik api menjadi bagian penting dalam pencegahan.
Dishut Kaltara terus mengintensifkan patroli, pengawasan kawasan rawan, pemantauan hotspot dan sosialisasi kepada masyarakat.
Nurlaila menegaskan pencegahan karhutla membutuhkan keterlibatan seluruh pihak, termasuk masyarakat, pelaku usaha dan aparat desa.
“Karhutla bukan hanya tugas aparat. Ini tanggung jawab kita bersama untuk menjaga Kaltara tetap hijau, aman dan terhindar dari bencana asap,” tegasnya.
Dengan pengecekan lapangan dan respons cepat terhadap setiap indikasi hotspot, pemerintah berharap potensi kebakaran dapat dikendalikan sejak awal sebelum meluas dan menimbulkan dampak terhadap lingkungan maupun masyarakat.











Discussion about this post