NUNUKAN – Dari Pulau Sebatik, semangat menyambut HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 terasa berbeda. Di wilayah yang berbatasan langsung dengan Malaysia itu, Merah Putih tidak hanya dikibarkan sebagai simbol kemerdekaan, tetapi juga menjadi pengikat rasa cinta terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Gubernur Kalimantan Utara, Dr. H. Zainal A. Paliwang, turun langsung ke tengah masyarakat untuk membagikan bendera Merah Putih menjelang peringatan 17 Agustus.
Didampingi Bupati Nunukan H. Irwan Sabri dan jajaran pemerintah, Gubernur membagikan bendera kepada warga di sejumlah titik di Pulau Sebatik.

Warga menyambut kedatangan rombongan dengan antusias. Bendera yang diterima kemudian dipasang di rumah, toko, hingga lingkungan tempat tinggal.
Bagi Zainal, pembagian bendera di wilayah perbatasan memiliki makna tersendiri. Sebatik merupakan salah satu wajah terdepan Indonesia yang secara langsung menunjukkan keberadaan dan semangat kebangsaan di tapal batas negara.
“Ini kegiatan kebangsaan di wilayah perbatasan Sebatik, Kabupaten Nunukan. Harapan kita, khususnya masyarakat perbatasan tetap menjaga persatuan, nasionalisme, kemudian menjaga dengan baik wilayah perbatasan kita,” ujar Zainal.
Ketika Semangat Kemerdekaan Membawa Rezeki
Di tengah ramainya pembagian bendera, terselip cerita sederhana dari para pedagang bendera.
Bukan hanya warga yang menerima bendera, para pedagang kecil juga merasakan dampak positif dari kegiatan tersebut.
Sejumlah dagangan bendera diborong Gubernur. Bagi pedagang, pembelian tersebut menjadi rezeki sekaligus perhatian yang datang di tengah lesunya penjualan.
Daris, salah seorang pedagang bendera, mengaku terkejut ketika dagangannya dibeli dalam jumlah besar.
Sekitar 80 bendera berukuran 1,20 meter diborong Gubernur.
“Alhamdulillah, nggak nyangka juga. Tiba-tiba istilahnya keborong banyak, 80 biji,” kata Daris, Jumat (07/08/2026).
Ia mengaku pembelian tersebut cukup membantu. Sebab, sebelum mendapat pembelian dalam jumlah besar, penjualan bendera masih tergolong sepi.
Dalam sehari, menurut Daris, rata-rata hanya sekitar 10 hingga 15 bendera yang terjual.
Cerita serupa datang dari Didi Mashudi, pedagang bendera lainnya. Sekitar 40 bendera dagangannya ikut dibeli Gubernur.
“Sangat membantu Pak. Terima kasih,” ujar Didi.
Bagi Didi, momentum menjelang 17 Agustus menjadi harapan baru agar penjualan bendera semakin meningkat.
Ia berharap masyarakat semakin sadar untuk memasang Merah Putih di rumah maupun tempat usaha masing-masing.
“Mudah-mudahan banyak lagi pembeli. Mudah-mudahan masyarakat yang datang ke sini lebih memiliki kesadaran memasang bendera, sehingga lebih banyak yang laku,” harapnya.
Cinta NKRI dari Tapal Batas
Kegiatan di Sebatik memperlihatkan bahwa semangat kemerdekaan dapat hadir melalui banyak cara.
Ada bendera yang dibagikan, ada warga yang memasangnya, dan ada pedagang kecil yang memperoleh rezeki dari perayaan kemerdekaan.
Namun, lebih dari itu, ada pesan besar yang ingin disampaikan dari wilayah perbatasan: masyarakat Sebatik adalah bagian penting dari Indonesia.
Di garis depan negeri, Merah Putih menjadi simbol kebanggaan sekaligus penegas kecintaan kepada NKRI.
Menjelang HUT Kemerdekaan RI ke-81, semangat itu diharapkan tidak berhenti pada seremonial.
Tetapi terus tumbuh dalam kehidupan sehari-hari, melalui persatuan, kepedulian, dan kesadaran bersama untuk menjaga wilayah perbatasan sebagai bagian utuh dari Indonesia.
Dari Sebatik, Merah Putih berkibar bukan sekadar untuk memperingati kemerdekaan.
Ia menjadi pesan sederhana dari masyarakat perbatasan: kami ada, kami Indonesia, dan kami akan terus menjaga Merah Putih. (*)








Discussion about this post