BUNYU – Langkah PT Pertamina EP (PEP) Bunyu Field mengoptimalkan sumur tua membuahkan hasil besar. Melalui kegiatan well intervention, produksi minyak Sumur BN-38 di Lapangan Bunyu, Kalimantan Utara, melonjak dari sekitar 8 barel menjadi 733 barel pada awal produksi setelah intervensi.
Peningkatan tersebut sekaligus menunjukkan masih adanya potensi hidrokarbon pada aset eksisting yang dapat dikembangkan melalui evaluasi dan teknologi yang tepat.
Tak hanya minyak, produksi gas Sumur BN-38 juga meningkat signifikan. Per 5 Oktober 2026, produksi gas tercatat mencapai 0,52 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD), jauh di atas target awal sebesar 0,10 MMSCFD.
Keberhasilan tersebut diawali evaluasi komprehensif terhadap kondisi sumur. PEP Bunyu Field memperbarui analisis data subsurface, termasuk data saturasi log, untuk memetakan kembali keberadaan dan potensi hidrokarbon yang masih tersimpan.
Senior Manager Bunyu Field Ruri Heriandi mengatakan, hasil evaluasi menunjukkan adanya interval sumur yang masih memiliki potensi hidrokarbon dan belum berproduksi secara optimal.
Atas dasar tersebut, tim melakukan sejumlah tindakan intervensi, termasuk water shut off dengan mengisolasi serta melakukan penyemenan pada interval yang terindikasi menghasilkan air. Tim juga melakukan perforasi pada lapisan top sand untuk meningkatkan produksi minyak sekaligus mengurangi masuknya air.
“Hasil evaluasi tersebut menjadi dasar dalam menentukan strategi intervensi yang tepat, termasuk penerapan water shut off dengan mengisolasi dan melakukan penyemenan pada interval yang terindikasi menghasilkan air, serta melakukan perforasi pada lapisan top sand untuk mengoptimalkan produksi minyak sekaligus meminimalkan masuknya air,” jelas Ruri.
Evaluasi lebih lanjut juga menunjukkan interval J-72 masih menyimpan potensi hidrokarbon yang belum terproduksikan secara optimal. PEP Bunyu Field kemudian membuka kembali interval tersebut sebagai bagian dari strategi peningkatan produksi.
“Alhamdulillah, hasil awalnya menunjukkan peningkatan produksi yang signifikan dan semoga bisa bertahan dalam waktu yang panjang,” imbuhnya.
General Manager Zona 10 Darmapala menegaskan, optimalisasi aset eksisting menjadi bagian penting dari strategi perusahaan dalam menjaga produktivitas lapangan migas, khususnya lapangan yang telah memasuki fase mature.
Menurutnya, inovasi dan pemanfaatan teknologi terus didorong dalam kegiatan pemeliharaan, perbaikan, serta reaktivasi sumur untuk meningkatkan produktivitas, recovery rate, dan memperpanjang usia produktif sumur.
“Keberhasilan well intervention di Sumur BN-38 menunjukkan bahwa optimalisasi aset eksisting dapat memberikan tambahan produksi yang berarti. Upaya seperti ini akan terus kami dorong untuk mengoptimalkan potensi aset yang dimiliki Pertamina,” ujar Darmapala.
PEP Bunyu Field selanjutnya akan terus menjaga keberlanjutan produksi migas di Lapangan Bunyu melalui optimalisasi sumur-sumur eksisting. Upaya tersebut menjadi bagian dari kontribusi perusahaan dalam menjaga pasokan migas dan mendukung ketahanan energi nasional.
Lonjakan produksi Sumur BN-38 dari sekitar 8 barel menjadi 733 barel menjadi gambaran bahwa potensi aset lama masih dapat dikembangkan melalui pendekatan teknis yang tepat dan berbasis data.








Discussion about this post