NUNUKAN – Masyarakat Kabupaten Nunukan diminta tidak lengah menghadapi perubahan pola cuaca di tengah penguatan fenomena El Niño, meski hujan masih berpeluang terjadi, kondisi kering diperkirakan tetap mewarnai sebagian wilayah Nunukan dalam beberapa waktu ke depan.
Kepala BMKG Nunukan William Sinaga melalui Petugas Perkiraan Cuaca BMKG Nunukan, Indra, mengatakan kondisi cuaca di Nunukan saat ini masih menunjukkan adanya hujan, namun curah hujan secara umum berada pada kategori rendah hingga menengah.
“Curah hujan secara umum masih masuk kategori rendah sampai menengah,” ujar Indra saat menjelaskan perkembangan cuaca dan prediksi iklim di Nunukan, Jumat (21/08/2026).
Berdasarkan analisis BMKG, curah hujan pada Agustus di Kalimantan Utara didominasi kategori rendah hingga menengah, untuk Kabupaten Nunukan, sebagian wilayah masih berpeluang mendapatkan curah hujan kategori menengah.
Kondisi tersebut bukan berarti Nunukan sepenuhnya bebas dari hujan. Hujan masih dapat terjadi secara lokal, terutama ketika kondisi atmosfer mendukung pembentukan awan hujan.
Namun, masyarakat tetap perlu memperhatikan kecenderungan cuaca yang lebih kering sebagai dampak dari dinamika iklim yang sedang berlangsung.
Secara nasional, BMKG mencatat fenomena El Niño semakin menguat, hasil pemantauan Dasarian I Agustus 2026 menunjukkan indeks Niño3.4 mencapai +2,77, yang dikategorikan sebagai El Niño dengan intensitas sangat kuat.
Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang mendukung berkurangnya suplai hujan di sejumlah wilayah Indonesia.
BMKG sebelumnya juga menyebut puncak musim kemarau 2026 diperkirakan terjadi pada Juli hingga September, dengan Agustus menjadi salah satu periode puncak kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia.
Kondisi kering tersebut juga tercermin dalam prediksi cuaca mingguan, pada Minggu III Agustus, hampir seluruh wilayah Kalimantan Utara diprediksi berada dalam kategori curah hujan rendah.
Memasuki Minggu IV Agustus, sebagian wilayah diperkirakan mulai mengalami peningkatan curah hujan, meski kondisi rendah hingga menengah masih mendominasi.
“Untuk sekarang masih ada hujan, jadi tidak berarti karena El Niño kemudian sama sekali tidak ada hujan. Hujan masih bisa terjadi, tetapi kondisinya cenderung lebih rendah dan bersifat lokal,” jelas Indra.
Selain curah hujan, kondisi kering juga perlu diwaspadai karena dapat meningkatkan potensi munculnya titik panas atau hotspot, khususnya ketika hari tanpa hujan berlangsung lebih panjang.
Indra mengatakan pemantauan terhadap titik panas tetap dilakukan BMKG sebagai bagian dari kewaspadaan terhadap potensi dampak kondisi kering.
Masyarakat juga diminta memperhatikan kondisi kualitas udara, berdasarkan analisis BMKG pada Stasiun Meteorologi Tanjung Harapan, kondisi ambien secara umum berada pada kategori aman hingga sedang. Namun, terdapat peningkatan konsentrasi partikulat PM2.5 pada periode tertentu.
Data BMKG mencatat konsentrasi PM2.5 maksimum di Tanjung Selor mencapai 136,3 mikrogram per meter kubik pada 6 Agustus 2026 dan masuk kategori tidak sehat.
Tren peningkatan partikulat juga perlu diwaspadai karena konsentrasinya dapat meningkat dari kategori baik menuju sedang.
Kondisi tersebut menjadi pengingat agar masyarakat tetap memperhatikan informasi kualitas udara, terutama ketika terjadi peningkatan partikulat di udara.
Meski kondisi kering menjadi perhatian, BMKG menekankan bahwa masyarakat tidak perlu panik. Kewaspadaan lebih diperlukan untuk mengantisipasi dampak yang mungkin muncul dari perubahan pola cuaca.
Salah satunya dengan memperhatikan ketersediaan air, mengantisipasi potensi kebakaran lahan ketika kondisi semakin kering, serta mengikuti perkembangan informasi cuaca yang dikeluarkan BMKG.
Untuk Kabupaten Nunukan sendiri, prediksi BMKG menunjukkan curah hujan masih dapat berada pada kategori menengah di sejumlah wilayah, bahkan pada Dasarian III Agustus, Nunukan termasuk wilayah Kalimantan Utara yang masih diprediksi berpeluang mendapatkan curah hujan kategori menengah.
Artinya, kondisi cuaca Nunukan tidak bisa hanya dilihat dari istilah “kemarau” atau “El Niño”. Perubahan cuaca dapat terjadi dari waktu ke waktu dan berbeda antarwilayah.
Karena itu, masyarakat diimbau tetap mengikuti informasi resmi BMKG dan tidak hanya mengandalkan kondisi cuaca yang terlihat pada satu atau dua hari. (*)









Discussion about this post